Akun Twitter Tokoh Dunia Kembali Diretas, Kini PM India Narendra Modi

Peretasan ini diketahui setelah adanya serangkaian cuitan Modi yang meminta pengikutnya menyumbang ke dana bantuan dengan cryptocurrency.
Image title
Oleh Ekarina
3 September 2020, 09:06
Akun Twitter Tokoh Dunia Kembali Diretas, Kini PM India Narendra Modi .
YouTube
Logo Twitter. Akun Twitter milik Perdana Menteri India Narendra Modi diretas dengan modus meminta dana sumbangan dengan crytocurrency.

Twitter mengonfirmasi peretasan akun pribadi milik  Perdana Menteri India Narendra Modi. Peretasan ini diketahui setelah adanya serangkaian cuitan Modi yang meminta pengikutnya menyumbang ke dana bantuan dengancryptocurrency.

Usai mengetahui aktivitas mencurigakan tersebut, Twitter menyatakan telah mengambil sejumlah tindakan untuk mengamankan akun yang disusupi. 

“Kami secara aktif menyelidiki situasinya. Saat ini, kami tidak mengetahui adanya akun tambahan yang terpengaruh, ”kata juru bicara Twitter dalam pernyataan dikutip dari Reuters, Kamis (3/9). 

Sementara itu, pihak Narendra Modi belum merespons kabar peretasan dan cuitan yang diposting melalui akun narendramodi_in tersebut.

Advertisement

Selain Modi, insiden serupa juga pernah dialami akun beberapa tokoh terkemuka pada Juli 2020, seperti kandidat presiden AS Joe Biden, mantan Presiden AS Barack Obama, Bill  dan miliarder Elon Musk. Peretas menggunakan akun ini untuk meminta  uang digital.

Peretas pernah mengunggah cuitan yang meminta para pengikut mengirimkan US$ 1.000 dalam bentuk bitcoin melalui akun-akun tersebut dan mengaku akan mengembalikan bitcoin yang dikirim dua kali lipat.

Pada akun Bill Gates misalnya, cuitan itu berbunyi “saya berjanji akan menggandakan semua pembayaran ke alamat (akun) bitcoin saya dalam 30 menit. Anda mengirimkan US$ 1.000, maka saya kirimkan US$ 2.000.”

Tak lama berselang, Twitter melalui akun resminya mengatakan bahwa peretasan itu bertujuan menipu pengguna dengan modus rekayasa sosial (social engineering). “Kami meyakini ini sebagai serangan rekayasa sosial yang terkoordinasi,” kata perusahaan melalui akun @TwitterSupport, Kamis (16/7).

Perusahaan menduga, para peretas meretas akun karyawan sehingga bisa masuk ke sistem. Dengan begitu, mereka dapat mengatur ulang alamat email yang terkait dengan akun.

Saat peretasan berlanjut, Twitter tampaknya menonaktifkan akun terverifikasi untuk sementara. Hal ini untuk membatasi kemampuan peretas dalam mengunggah konten, mengatur ulang kata sandi, dan beberapa fungsi lainnya.

"Ini hari yang berat bagi kami di Twitter. Kami semua merasa tidak nyaman akan hal ini terjadi," CEO Jack Dorsey melalui akun Twitter-nya.

Kasus peretasan merupakan salah satu persoalan serius. International Business Machines (IBM) mencatat, total kerugian akibat peretasan data rata-rata mencapai US$ 3,86 juta secara global pada 2020.

Meski begitu, sejumlah negara memiliki nilai lebih tinggi, seperti Amerika Serikat (US$ 8,64 juta) dan Timur Tengah (US$ 6,52 juta). Detailnya, bisa dilihat dalam tabel databoks berikut:

 

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait