Riset: Nilai Transaksi Produk Kesehatan Tokopedia Melonjak 154%

Terjadi peningkatan jumlah pelaku usaha yang menjual produk esensial selama pandemi Covid-19
Image title
Oleh Melati Kristina Andriarsi - Tim Riset dan Publikasi
29 Maret 2021, 20:06
Tampilan layanan kesehatan GoApotik di platform Tokopedia.
Tokopedia
Tampilan layanan kesehatan GoApotik di platform Tokopedia.

Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak terhadap hampir seluruh sektor usaha, termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hadirnya platform online seperti Tokopedia turut membangkitkan kembali bisnis pelaku usaha dan UMKM yang sempat lesu.

Marketplace menjadi tempat untuk menjual produk yang paling banyak dibutuhkan masyarakat saat pandemi, seperti makanan dan minuman serta produk kesehatan. Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Riatu Qibthiyyah menyatakan transisi pelaku usaha dari offline ke online marak terjadi pada periode tersebut.

“Sebagian besar yang masuk ke online dikarenakan usaha offline terganggu karena penurunan aktivitas usaha khususnya saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pelaku usaha UMKM yang berasal dari pekerja terdampak PHK juga mulai beradaptasi ke penjualan online,” ujar Riatu dalam wawancara dengan Katadata.co.id, Kamis (18/3).

Riset LPEM FEB UI mencatat, terjadi peningkatan jumlah pelaku usaha yang menjual produk esensial selama pandemi Covid-19. Proporsi pelaku usaha yang menjual produk makanan dan minuman meningkat dari yang sebelum pandemi 30,8% tumbuh menjadi 44,3% saat pandemi. Sedangkan pelaku usaha yang menjual produk kesehatan dan perawatan pribadi meningkat dari 14,9% menjadi 28,1%.

Berdasarkan pertumbuhan nilai transaksi per kategori saat pandemi, jenis produk kesehatan mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 154,1% melampaui produk makanan minuman 106,1% dan elektronik 24,1%.

“Permintaan yang terkait barang-barang kesehatan meningkat. Konsumsi makanan dan minuman dan hobi seperti game mengalami peningkatan karena masyarakat banyak yang beraktivitas di dalam rumah,” ujar Riatu dan Tim LPEM UI.

“Semakin banyak yang masuk pastinya kompetisinya semakin sulit, berarti harus ada strategi promosi atau network sesama. Tokopedia memiliki connectivity di dalam platformnya dan value chain dalam memberikan input,” katanya.

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni mengatakan selama pandemi Covid-19, belanja online terus menjadi alternatif masyarakat untuk mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai.

Tren transaksi untuk kategori produk-produk esensial mengalami lonjakan. Banyak penjual di Tokopedia yang bergerak membantu menyediakan produk kesehatan yang paling dibutuhkan masyarakat selama 2020.

“Total masker yang terjual mencapai lebih dari 5x total penduduk pulau Jawa. Di sisi lain, jumlah hand sanitizer yang terjual mencapai 4x total penduduk Bali,” kata Astri kepada Katadata.co.id.

Dalam menghadapi pandemi dan sederet tantangannya, Tokopedia menurutnya telah membantu pelaku usaha beradaptasi melalui sejumlah inisiatif hasil kolaborasi dengan mitra strategis seperti #BanggaBuatanIndonesia, #JagaEkonomiIndonesia, Waktu Indonesia Belanja (WIB), dan lainnya.

Selama pandemi Covid-19, Tokopedia juga melihat tren belanja makanan dan minuman meningkat tajam. Oleh sebab itu, salah satu inisiatif yang Tokopedia luncurkan di awal pandemi bersama Kemenparekraf dan Kemenperin adalah kampanye #SatuDalamKopi. Kampanye ini diharapkan mampu memajukan produk kopi nusantara sekaligus membuat roda perekonomian tetap bergerak di tengah pandemi.

“Kami juga meluncurkan kampanye Tokopedia Nyam! di mana Tokopedia mempermudah masyarakat mendapatkan produk makanan dan minuman tanpa harus keluar rumah,” ujarnya.

Tokopedia juga berkolaborasi dengan pemerintah mitra strategis lainnya untuk membangun sinergi dalam mendongkrak penjualan di kategori seperti otomotif melalui kampanye #GerakanOtomotifNasional. Kolaborasi Tokopedia dan Kementerian Perindustrian berkolaborasi ini merupakan bentuk inovasi di sektor otomotif dengan memanfaatkan sarana penjualan online.

Dengan kampanye ini diharapkan pengusaha lokal otomotif dapat terus memasarkan produk dan memastikan usaha mereka tetap berjalan di tengah penjualan industri otomotif yang menurun hingga 40% saat pandemi..

Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UMKM, Hanung Harimba mengatakan, berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2020 dari Google, Temasek dan Bain & Company, selama pandemi penjualan platform e-commerce naik 26% menjadi Rp 36 triliun pada kuartal II 2020 dibandingkan periode yang sama 2019. Transaksi harian juga naik menjadi 4,8 juta transaksi dari 3,1 juta transaksi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, akses internet yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia menjadi hambatan utama bagi UMKM berjualan online dan berinovasi menjual produknya.

“Akses internet belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal untuk berdagang. Kemampuan sebagian pelaku usaha untuk menampilkan produk dan promosi online masih terbatas,” Ujar Hanung dalam wawancara dengan Katadata.co.id, Jumat (19/3).

Oleh sebab itu, UMKM menurutnya masih memerlukan peran dan pendampingan reseller atau marketplace agar bisa terhubung dengan konsumen platform online.

Editor: Ekarina
Video Pilihan

Artikel Terkait