Riset: 68% Penjual yang Bergabung di Tokopedia Pencari Nafkah Tunggal

Tokopedia menjadi rumah bagi pelaku UMKM untuk tetap berkembang di masa pandemi.
Image title
Oleh Hanna Farah Vania - Tim Riset dan Publikasi
31 Maret 2021, 13:39
Ilustrasi platform Tokopedia
tokopedia

Pandemi Covid-19 mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi mengikuti perubahan perilaku konsumen. Platform digital seperti Tokopedia menjadi tempat bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mempertahankan dan meningkatkan kembali penjualannya yang sempat menurun saat pandemi, termasuk bagi para pencari nafkah tunggal di keluarga yang menggantungkan hidup dari berjualan. 

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang bertajuk “Bertahan, Bangkit dan Tumbuhnya UMKM di Tengah Pandemi melalui Adopsi Digital” mencatat, saat pandemi terdapat 90% penjual berskala mikro di Tokopedia. Selain itu, ada 68,6% penjual yang baru bergabung di Tokopedia saat pandemi merupakan pencari nafkah tunggal di keluarga. 

Pembatasan mobilitas warga yang bertujuan untuk menghindari transmisi virus menyebabkan konsumen memilih marketplace sebagai tempat berbelanja dan memenuhi kebutuhan mereka saat pandemi. Situasi tersebut kemudian mendorong pelaku usaha mau tak mau ikut beradaptasi dengan memindahkan bisnis mereka dari platform offline ke online.

Menariknya, penjualan pelaku UMKM di platform online, seperti Tokopedia, justru meningkat. Riset LPEM FEB UI menunjukkan 7 dari 10 pelaku usaha mengalami peningkatan volume penjualan dengan median 133%. Dengan besarnya permintaan dari konsumen saat pandemi, frekuensi pesanan pelaku usaha di Tokopedia pun terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. 

Bila dibandingkan minggu pertama 2020, rata-rata frekuensi pemesanan di wilayah yang menerapkan PSBB  periode Januari – Februari 2020 meningkat 4,4%, lalu  kembali naik 53,7% pada Maret-April serta 79,3% pada Mei-Juni. Adapun kenaikan tertinggi terjadi pada Juli – Agustus 2020 dengan lonjakan frekuensi pemesanan mencapai 109,3%.

Kepala LPEM FEB UI Riatu Mariatul Qibthiyyah dan tim LPEM FEB UI menilai, para pelaku UMKM dapat berkembang di masa seperti ini adalah mereka yang mampu beradaptasi.

“Jadi mereka yang resilient sebenarnya adalah mereka yang mampu adjusting market demand dan mereka yang bisa berganti input untuk menyesuaikan permintaan pasar,” kata Riatu dan tim LPEM FEB UI kepada Tim Riset Katadata.co.id, Kamis (18/3).

Fleksibilitas waktu juga menjadi faktor lain yang memengaruhi pelaku usaha beralih ke platform online khususnya di Tokopedia. Oleh sebab itu, selama pandemi, banyak perempuan yang berlatar belakang ibu rumah tangga, di tengah kesibukannya mengurus rumah, memilih marketplace sebagai tempat berjualan. 

Hal ini sejalan dengan temuan riset LPEM FEB UI yang menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak memulai usaha dibanding laki-laki di Tokopedia. Riset mencatat, 18,6% pelaku usaha perempuan yang baru memulai usaha saat pandemi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pelaku usaha laki-laki sebesar 13,2%.

“Ini menunjukkan platform digital telah menjadi rumah bagi pelaku usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan bisnisnya,” ujar Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni kepada Tim Riset Katadata.co.id. 

Tokopedia jadi platform paling diminati

Di antara berbagai platform online dan offline untuk berjualan, pelaku usaha paling banyak memilih marketplace seperti Tokopedia. Berdasarkan data LPEM FEB UI, porsi penjualan Tokopedia paling tinggi dibandingkan platform lain, baik sebelum dan saat pandemi. Saat pandemi, porsi penjualan di Tokopedia pun meningkat sebesar 10 poin. 

Riatu dan tim LPEM FEB UI menilai, terdapat beberapa aspek yang menyebabkan marketplace seperti Tokopedia diminati dan menjadi andalan bagi pelaku UMKM. Alasannya, marketplace mampu melihat kebutuhan pelaku usaha dan konsumen. Selain itu, marketplace seperti Tokopedia juga memiliki variasi produk dan basis konsumen lebih besar sehingga akan menguntungkan pelaku usaha.

Marketplace memberikan pasar yang lebih luas, dia bisa menjangkau ke konsumen lebih banyak,” kata Riatu dan tim LPEM FEB UI.

Melihat peningkatan tersebut, Astri optimis pelaku UMKM dapat terus berkembang di tengah situasi saat ini. Menurut data internal Tokopedia, per Februari 2021, ada lebih dari 10 juta penjual yang hampir seluruhnya UMKM telah terdaftar di Tokopedia. Terdapat kenaikan sebesar lebih dari 2,8 juta dari 7,2 juta penjual sejak Januari 2020. 

Di sisi lain, jumlah pembeli pun meningkat sebesar lebih dari 10 juta, dari 90 juta pada Januari 2020  menjadi lebih dari 100 juta saat ini. 

“Kami melihat meski di tengah masa penuh tantangan, selalu ada kesempatan yang bisa diraih. Contohnya, dari pandemi ini, adopsi platform digital seperti Tokopedia terjadi begitu pesat,” katanya.

Untuk mendukung produk lokal, Tokopedia melakukan berbagai promosi dan menyediakan halaman khusus ‘Bangga Buatan Indonesia’ yang berisikan kurasi produk-produk dari pelaku UMKM terbaik di Indonesia. Gerakan ini mendapat dukungan pemerintah, salah satunya Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM). 

Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Hanung Harimba Rachman menyatakan, pemerintah terus mendorong UMKM yang usahanya terus berkembang di platform digital. Pemerintah bahkan saat ini mendorong agar pelaku usaha dapat mengekspor produk ke luar negeri. 

Adapun strategi yang dilakukan adalah dengan mempertemukan seller yang mampu mengatur proses bisnis dengan pelaku UMKM selaku produsen barang, sehingga bisnis akan lebih bertahan lama.

Kemenkop UMK juga menyiapkan beberapa strategi seperti katalog ekspor yang berisi data mengenai bisnis dan produk UMKM dan program center of excellence UMKM Academy untuk memberikan pelatihan bagi pelaku usaha.

“Kami berupaya mendorong pelaku UMKM untuk berkonsultasi bisnis, belajar ekspor, dan melakukan pelatihan,” kata Hanung kepada Tim Riset Katadata.co.id.

Editor: Ekarina
Video Pilihan

Artikel Terkait