Sempat Jeblok, Harga Emas Antam Bangkit ke Level Rp 755 Ribu per Gram

Harga emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Pulo Gadung pagi ini tercatat naik Rp 4 ribu ke level Rp 755 ribu per gram.
Image title
Oleh Ekarina
2 Oktober 2019, 09:43
Petugas menunjukkan imitasi emas logam mulia produk PT Aneka Tambang (Antam) yang dipamerkan di gerai Antam dalam sebuah pameran di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (9/9).
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Petugas menunjukkan imitasi emas logam mulia produk PT Aneka Tambang (Antam) yang dipamerkan di gerai Antam dalam sebuah pameran di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (9/9).

Harga Emas Antam pada perdagangan Rabu (2/10) pagi kembali bangkit, setelah anjlok tajam pada perdagangan kemarin. Menurut logammulia.com, harga emas Antam di Butik Emas Logam Mulia Pulo Gadung pagi ini tercatat naik Rp 4 ribu ke level Rp 755 ribu per gram, setelah kemarin anjlok hingga Rp 10 ribu ke level Rp 751 per gram dari perdagangan sebelumnya Rp 761 ribu per gram. 

Sementara untuk harga emas penjualan kembali hari ini juga ikut terkerek Rp 4 ribu ke level Rp 676 ribu per gram.

(Baca: BPS: Investor Pilih Safe Haven, Harga Emas Naik)

Kenaikan harga emas Antam sejalan peningkatan harga emas dunia. Mengutip Reuters, harga emas naik tipis pada perdagangan Rabu, setelah menanjak 1% di sesi sebelumnya.

Hal ini disebabkan memburuknya data manufaktur AS sehingga memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta meningkatnya spekulasi penurunan suku bunga dan pelemahan dolar.

Di pasar spot, harga emas naik 0,1% ke level US$ 1.479 per ounce. Harga mencapai level terendah selama dua bulan mendekati US$ 1.458.50 per ounce pada Selasa (1/10), sebelum akhirnya naik sebanyak 1% selama sesi perdagangan. Sementara harga emas berjangka AS turun 0,2% di level US$ 1.485 per ounce.

Aktivitas manufaktur AS jatuh ke level terendah lebih dari 10 tahun terakhir pada September 2019. Perang dagang AS-Tiongkok yang masih beranjut, turut membebani ekspor. Kekhawatiran para pelaku pasar keuangan pun meningkat terkait adanya perlambatan tajam pada pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal ketiga.

(Baca: Dipicu Sentimen Perang Dagang, Harga Emas Kembali Anjlok)

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali mengecam Federal Reserve, setelah data sektor manufaktur penunjukkan pelemahan. Dia mengatakan bank sentral telah mempertahankan suku bunga terlalu tinggi, sehingga dengan dolar terlalu kuat berpotensi menekan manufaktur.

"Fed telah menetapkan kebijakan moneter, dimana dapat memenuhi target inflasi 2% dan ada ruang untuk menaikkan suku bunga sedikit selama beberapa tahun ke depan jika ekonomi terus tumbuh," kata Presiden Fed Chicago Charles Evans, Selasa (1/10).

 

 

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait