Terseret Data Ekonomi AS, Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah

Rupiah berpotensi berbalik melemah hari ini mengikuti sentimen negatif global
Agatha Olivia Victoria
16 April 2020, 09:47
Terseret Data Ekonomi AS, Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah.
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Karyawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Rupiah dibuka melemah terseret sentimen global dan memburuknya kinerja keuangan Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot Kamis (16/4) pagi, dibuka melemah 0,52% ke level Rp 15.657 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah ikut terdampak oleh buruknya data ekonomi AS yang dirilis tadi malam.

Mengutip laman Bloomberg, seluruh mata uang Asia melemah pagi ini. Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan penurunan terbesar ketiga setelah won Korea dan Ringgit Malaysia yang masing-masing anjlok sekitar 0,83% dan 0,64%. 

Berikutnya, penurunan juga dialami yen Jepang 0,35%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar SIngapura 0,27%, dolar Taiwan 0,2%, dan won Korea Selatan 0,83%. Kemudian peso Filipina melemah 0,12%, rupee India 0,21%, yuan Tiongkok 0,1%, ringgit Malaysia 0,57%, dan baht Thailand 0,06%.

(Baca: Rupiah Menguat 15.575 per dolar AS Berkat Stimulus AS & Surplus Dagang)

Advertisement

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengungkapkan, sentimen negatif kembali menghampiri pasar keuangan pagi ini. "Terutama setelah pelaku pasar melihat data ekonomi AS yang baru dirilis semalam," kata Tjendra kepada katadata.co.id, Kamis (16/4).

Beberapa kinerja ekonomi AS di antaranya menunjukkan, penjualan retail periode Maret merosot hingga 8,7%, sekaligus merupakan penurunan terdalam sejak 1992.

Selain itu, Tjendra menuturkan bahwa indeks aktivitas manufaktur New York juga terjun bebas -78.2. Hal tersebut turut diperparah dengan laporan Bank Sentral AS (The Fed) yang memproyeksikan perekonomian Negeri Paman Sam kondisinya akan semakin memburuk ke depan.

(Baca: Pasar Respons Positif Tambahan Likuiditas BI, Rupiah Dibuka Stagnan)

"Termasuk tingkat pengangguran yang akan terus naik, akibat terhentinya aktivitas ekonomi karena pandemi virus corona," ujar dia.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) sudah mengeluarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang negatif di 2020. Hal ini disebabkan oleh  terhentinya seluruh aktivitas perekonomian akibat Covid-19. 

Dengan demikian, rupiah berpotensi berbalik melemah hari ini mengikuti sentimen negatif global. Atas dasar itu, Tjendra memperkirakan potensi pergerakan kurs mata uang Garuda berada di antara Rp 15.550 dan 15.750. 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait