Pertumbuhan Kredit Bank Kian Menyusut, per Februari Hanya 5,5%

Perlambatan penyaluran kredit terjadi baik pada debitur korporasi maupun perorangan.
Agatha Olivia Victoria
31 Maret 2020, 13:29
Pertumbuhan Kredit Bank Kian Menyusut, per Februari Hanya 5,5%.
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Foto udara perumahan di kawasan Riung Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/12). Bank Indonesia mencatat sejumlah sektor mengalami perlambatan kredit, termasuk sektor properti.

Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit perbankan semakin menyusut. Total kredit perbankan per Februari 2020 tercatat Rp 5.544,4 triliun, atau tumbuh 5,5% secara tahunan. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan periode janurari 2020 yang tumbuh 5,7% secara tahunan.

 

"Perlambatan  penyaluran kredit terjadi baik pada debitur korporasi maupun perorangan," tulis BI dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (31/3).

Kredit korporasi Februari tercatat hanya tumbuh 4,6% dibanding bulan sebelumnya yang mampu tumbuh 5,2%. Demikian  juga kredit kepada perorangan tercatat melambat, dari 6,6% menjadi 6,3%.

Advertisement

(Baca: Sembilan Bank Beri Keringanan Kredit Terdampak Corona, Ini Prosedurnya)

Berdasarkan jenis penggunaan,  perlambatan  pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh kredit. Kredit modal kerja (KMK) melambat, dari  3% menjadi 2,6%.

Perlambatan penyaluran KMK terutama terjadi pada sektor konstruksi dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR). KMK sektor konstruksi melambat dari 5% menjadi 3,4%. Pada sektor ini perlambatan terutama pada kredit subsektor konstruksi perumahan menengah, besar, dan mewah (tipe di atas 70) di DKI Jakarta dan Banten.

Sedangkan KMK sektor PHR melambat dari 2,2%  menjadi 1,1%. Perlambatan bersumber pada melambatnya kredit modal kerja subsektor perdagangan eceran makanan, minuman, dan tembakau, khususnya di DKI Jakarta dan Bangka Belitung.

Kredit Investasi (KI)  juga tak luput dari perlambatan, BI mencatat penyaluran kredit sektor ini mengalami  sedikit perlambatan dari 10,1% menjadi 10%. Perlambatan terutama pada sektor konstruksi  serta sektor keuangan, real estat, dan jasa  perusahaan.

KI sektor konstruksi melambat, dari 31,7% menjadi 27,8%. Terutama, kredit yang disalurkan untuk  subsektor bangunan jalan tol di Riau dan Jawa  Timur.

(Baca: Pertumbuhan Kredit Bank Melambat Terimbas Corona, NPL pun Memburuk)

Adapun KI pada sektor keuangan, real estat, dan jasa perusahaan juga melambat dari 18,3% menjadi 16,6%. Melambatnya sektor ini terutama disebabkan oleh adanya perlambatan di subsektor persewaan mesin kantor  dan peralatannya di wilayah DKI Jakarta dan Jawa  Barat.

Tak hanya itu, pertumbuhan Kredit Konsumsi (KK) tercatat  sebesar 6,1%, lebih rendah dari bulan  sebelumnya 6,2%. Ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) terutama untuk rumah tipe 22-70 di Jawa Barat dan Banten serta kredit multiguna.

Kredit Properti

Sejalan dengan perlambatan total kredit, kredit properti juga melambat dari 9,3% menjadi 8,4%. Perlambatan pertumbuhan kredit properti disebbakan oleh melambatnya penyaluran kredit  KPR/KPA,  serta  kredit konstruksi.

Pertumbuhan kredit KPR/KPA per Februari 2020 tercatat hanya 7,5% atau melambat dari bulan sebelumnya sekitar 7,7%. Perlambatan juga terjadi pada kredit konstruksi dari 13,6% menjadi 11,2%.

Kendati kredit sektor properti mayoritas tengah lesu,  tapi kredit real estate meningkat tipis, dari 5,4% menjadi 5,5%.

(Baca: BI: Kondisi Saat Ini Lebih Kuat daripada Krisis Ekonomi 2008 dan 1998)

Seiring dengan perlambatan penyaluran kredit secara umum, kredit kepada sektor UMKM pada  Februari 2020 pun turut mengalami perlambatan  dari 8,2% menjadi 7,8%.

Perlambatan pertumbuhan kredit UMKM bersumber dari jenis skala usaha kecil dan menengah yang masing-masing tumbuh 10,6% dan 2,2%. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan  bulan sebelumnya yang sebesar 11,2% dan 3,3%.

Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan terjadi pada seluruh jenis kredit UMKM yakni modal kerja dan investasi.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait