Beban Produksi Meningkat, Laba Kuartal I Unilever Turun 6,6%

Pada Januari - Maret 2018 Unilever mencatat penjualan bersih sebesar Rp 10,7 triliun, turun tipis 0,73% dari periode sebelumnya Rp 10,8 triliun.
Image title
Oleh Ekarina
24 April 2018, 10:35
Unilever
Arief Kamaludin|KATADATA
Unilever mencatat penurunan penjualan di pasar doemstik dan ekspor.

Kenaikan biaya bahan baku dan beban operasi menekan kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) sepanjang kuartal I 2018. Produsen barang konsumsi ini mencatat laba sebesar Rp 1,83 triliun atau turun 6,6% dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,96 triliun.

Mengutip data laporan keuangan unaudited yang dipublikasikan perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia, sepanjang Januari - Maret 2018 Unilever mencatat penjualan bersih sebesar Rp 10,7 triliun, turun tipis 0,73% dari periode sebelumnya 10,8 triliun. Penurunan penjualan terjadi dua segmen pasar Unilever, baik di domestik maupun ekspor masing-masing sebesar 0,8% dan 2,2%.

Penurunan kinerja penjualan yang disertai dengan meningkatnya biaya produksi dan pembelian bahan baku menyebabkan laba bruto perusahaan tergerus menjadi sekitar Rp 5,48 triliun sekaligus melemah 2,49% dari sebelumnya Rp 5,62 triliun. Demikian halnya dengan posisi laba usaha yang menurun 6% yang kemudian berimbas pada perolehan laba, setelah penghasilan keuangan perusahaan juga menyusut dari tahun sebelumnya.

(Baca : Konsumsi Masyarakat Lesu, Pertumbuhan Ekonomi 2017 Tertahan 5,07%)

Advertisement

Penurunan penjualan emiten barang konsumsi di kuartal I 2018 dinilai Analis Bahana Sekuritas Michael Setjoadi terjadi lantaran terimbas pelemahan konsumsi masyarakat akibat kenaikan tarif listrik.

Pada awal tahun lalu, konsumsi masyarakat terbilang lebih stabil karena pemerintah belum menaikkan tarif listrik. Setelah memasuki paruh kedua 2017 daya beli masyarakat mulai turun. Sehingga berdampak pada tingkat penjualan dan belum  memperlihatkan kinerja positif pada kuartal satu tahun ini pada industri fast moving consumer goods (FMCG).

Namun, Michael memperkirakan pada kuartal dua tahun ini, daya beli masyarakat akan mendapat angin segar yang didorong oleh beberapa faktor yakni pencairan dana desa yang akan dilakukan oleh pemerintah melalui dua tahap yakni pada Maret-Juli sebesar 60%, sedangkan sisanya akan mulai dicairkan pada Agustus.

"Di saat yang bersamaan menjelang Idul Fitri, masyarakat akan menerima Tunjangan Hari Raya (THR), diikuti dengan perhelatan Asian Games pada Agustus," ujarnya.

Pemulihan daya beli ini akan semakin kuat dengan adanya perhelatan Pilkada serentak pada Juni mendatang, yang biasanya baru akan mendorong penjualan retail setelah Pilkada selesai. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait