Modernisasi Kandang, Japfa Kerek Belanja Modal Jadi Rp 2,5 Triliun

Alokasi belanja modal Japfa yang 66,6% lebih besar dibanding 2017 itu sebagian besar rencananya akan digunakan untuk moderinasi kandang ternak.
Michael Reily
5 April 2018, 19:40
Peternakan Ayam
ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Seorang pekerja sedang megontrol ayam usia sehari (day old chick) di sebuah peternakan

Perusahaan pakan ternak, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) siapkan belanja modal (capital expanditure / capex) sebesar Rp 2,5 triliun  sepanjang 2018.  Alokasi belanja modal yang 66,6%  lebih tinggi dibanding 2017 itu sebagian besar rencananya akan digunakan untuk moderinasi kandang ayam.

Wakil Presiden Direktur Japfa Bambang Budi Hendarto menyatakan kebutuhan renovasi kandang ternak saat ini sudah mendesak. “Mulai 1982 kita dirikan, perlu modernisasi kandang-kandang ayam supaya lebih efisien dan hasil produktivitas per kandang lebih baik,” kata Bambang di Hotel Harris Jakarta, Kamis (5/4).

(Baca : Indonesia Ekspor Perdana 6 Ton Nugget Ayam ke Jepang)

Karenanya untuk modernisasi kandang ternak tersebut, Japfa akan menganggarkan mencapai Rp 1 triliun dari total belanja modal.  Adapun sisa belanja modal nantinya akan digunakan untuk pengembangan dryer dan silo sebesar Rp 700 miliar, investasi sistem close house Rp 400 miliar, rumah potong dan alat prosesnya Rp 150 miliar, perluasan produk vaksin Rp 100 miliar serta ekspansi budidaya udang sebesar Rp 200 miliar.

Advertisement

Selain itu, perseroan juga berencana  melakukan perluasan pabrik pakan di Medan dengan investasi senilai Rp 500 miliar. Dengan pengembangan itu, perusahaan dengan pangsa pasar terbesar kedua untuk produk pakan ternak dan usaha peternakan anak ayam usia sehari (day old chick/DOC) itu berharap kinerja perusahaan bisa membaik dari tahun sebelumnya.

Pasalnya, pada 2017 Japfa mencatat penurunan laba bersih signifikan hingga 51,6% menjadi Rp  997,3 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp 2,06 triliun. Selain karena tekanan beban, Bambang beralasan laba bersih pada 2016 memang naik signifikan lantaran perusahaan melakukan penjualan aset berupa usaha penggemukan sapi di Australia. 

(Baca juga : Kemendag Terbitkan Izin Impor 36 Ribu Ton Daging Sapi)

“Penjualan pembibitan sapi karena aturan kuota impor sapi oleh pemerintah dan selisih kurs mata uang yang cukup signifikan,” ujar Bambang.

Sementara di sisi penjualan, pada tahun lalu Japfa berhasil mencetak  kenaikan 9,3% menjadi Rp 29,6 triliundari tahun sebelumnya  Rp 27,06 triliun. 

Sedangkan berdasarkan segmen usaha, pada 2017  lalu  pakan ternak masih menguasai mayioritas usaha perseroan dengan kontribusinya sebesar 45%, diikuti dengan segmen anak ayam umur sehari 11%, peternakan komersial dan produk konsumen 31%, peternakan sapi 3%, budidaya perairan 6%, dan perdagangan lain-lain 4%. Secara total peternakan unggas mencapai 87% dari penjualan.

Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait