Margin Laba Dua Emiten Kebun Grup Salim Tergerus Kenaikan Beban

Produk sawit masih menjadi pendorong utama penjualan London Sumatera dengan kontribusi sekitar 91%, diikuti oleh produk karet 6% dan benih bibit sawit 2%
Image title
Oleh Ekarina
2 Maret 2018, 11:00
Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA

Margin kotor dua perusahaan perkebunan milik konglomerasi Grup Salim mencatat penurunan sepanjang 2017. Margin laba kotor PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) sepanjang tahun lalu turun sekitar 0,6% menjadi 28,3%, sementara PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) turun sebesar 2% menjadi sekitar 24% seiring dengan meningkatnya beban produksi.

Laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan menunjukan pada 2017 London Sumatera membukukan penjualan sebesar Rp 4,73 triliun, naik 23% dari periode sebelumnya sebesar Rp 3,84 triliun, terdorong penjualan produk sawit (CPO dan palm kernel), karet serta bibit sawit. Produk sawit masih menjadi pendorong utama penjualan perseroan dengan kontribusinya sekitar 91%, diikuti oleh produk karet 6% dan benih bibit sawit 2%.

Meski demikian, realisasi penjualan perusahaan sedikit tertekan sejalan dengan meningkatnya beban pokok perseroan sebesar 24% menjadi sekitar Rp 3,39 triliun hingga mengakibatkan perseroan hanya mampu mencatat laba bruto sebesar Rp 1,34 triliun. Kendati laba bruto tahun lalu masih mampu mencetak kenaikan sebesar 20,9% karena terdorong peningkatan volume dan harga jual, namun tak demikian dengan raihan margin kotor peseroan yang melemah 0,6% menjadi 28,3% dari sebelumnya 28,9%.

(Baca : Pengusaha Sawit Minta Kejelasan Mengenai Moratorium Lahan Sawit)

Advertisement

Tergerusnya margin kotor perseroan disebabkan oleh meningkatnya sejumlah komponen beban produksi, seperti pada biaya pemupukan dan pemeliharaan, biaya panen, beban penyusutan serta biaya pabrikasi.

Sementara itu, kenaikan beban usaha dan operasional menekan laba usaha perseroan hingga menjadi sekitar Rp 958 miliar naik 11% dari sebelumnya Rp 810 miliar dengan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 763 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp 593 miliar setelah dikurangi beban keuangan dan rugi entitas asosiasi.

Perusahaan lain milik grup Salim yakni PT Salim Ivomas Tbk juga mencatat penurunan margin laba kotor lebih besar. Direktur Utama Grup SIMP Mark Wakeford dalam keterangan resminya mengatakan pada 2017 Salim Ivomas mencatat kenaikan produksi produk sawit kendati sempat mengalami perlambatan di kuartal keempat 2017.

"Sepanjang tahun lalu, kami mencatat peningkatan Lahan Tanaman Menghasilkan (TM) kelapa sawit dari Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) sekitar 9.000 hektar," ujarnya dalam keterangan resmi seperti yang dikutip dari keterbukaan informasi perusahaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/2).

Seiring peningkatan lahan TM kelapa sawit tersebut,  perseroan juga meningkatkan total kapasitas pengolahan kelapa sawitdengan membangun 2 pabrik kelapa sawit baru yang selesai pada tahun 2017 serta satu pabrik lainnya yang diperkirakan selesai pada tahun 2019.

"Perusahaan juga melakukan ekspansi pada pabrik penyulingan CPO di Surabaya berkapasitas 300 ribu ton per tahun yang diperkirakan selesai pada kuartal pertama 2018 untuk memenuhi peningkatan permintaan," ujarmya. 

Akibat peningkatan produktivitas tersebut, perseroan mencatat penjualan Rp 15,83 triliun meningkat 9% dari periode sebelumnya sebesar Rp 14,53 triliun. Sementara itu, kenaikan biaya produksi yang terutama disumbang oleh meningkatnya biaya aplikasi pupuk serta menurunnya kontribusi penjualan komoditas gula menyebabkan laba kotor perseroan stagnan dari tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp 3,42 triliun dan margin laba kotor tertekan sebesar 2%.


(baca juga : Rekor Tertinggi, Ekspor Minyak Sawit 2017 Tembus US$ 22,9 Miliar)

Penurunan margin laba bruto yang disertai dengan kenaikan usaha dan menurunnya penghasilan operasi lain seiring pengakuan one-off atas penyelesaian klaim pada sepanjang tahun 2016 menyebabkan laba usaha turun 11% secara tahunan menjadi Rp1,82 triliun dengan perolehan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada akhirnya turun sebesar 5% menjadi Rp512 miliar.

 

Industri kelapa sawit masih menanti momentum perkembangan harga sawit. Meski begitu, perbaikan ekonomi dunia yang mendorong peningkatan permintaan CPO baik dari negara seperti India, China maupun dari negera penghasilnya seperti Malaysia maupun Indonesia diharapkan bisa menjadi sentimen positif bagi emiten cpo, seperti PP London Sumatera dan Salim Ivomas, menurut Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada kepada Katadata.

"Sementara itu industri sawit juga harus mulai mewaspadai faktor cuaca ekstrem yang mempengaruhi produktivitas tanaman maupun isu-isu terkait kebijakan yang berpotensi menjadi sentimen yang bisa mempengaruhi harga di pasar komoditas," ungkapnya.

Sebelumnya, harga minyak sawit mentah atau CPO mengalami peningkatan. Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 mencapai US$ 22,97 miliar, naik 26% dibandingkan 2016 sebesar US$ 18,22 miliar. Melonjaknya ekspor menyebabkan nilai sumbangan devisa minyak sawit ikut meningkat.

“Nilai ekspor minyak sawit tahun 2017 merupakan nilai tertinggi yang pernah dicapai sepanjang sejarah ekspor,” kata Sekretaris Jenderal Gapki Togar Sitanggang kepada wartawan di Jakarta, Selasa (30/1).

Sedangkan secara volume, ekspor minyak sawit Indonesia pada 2017 juga tercatat tumbuh 23,6% menjadi 31,05 juta ton dari 25,11 juta ton pada 2016, di luar ekspor biodiesel dan oleochemical. Peningkatan ekspor itu terjadi seiring dengan perluasan pasar ekspor non tradisional.

Data Gapki juga menunjukan, volume ekspor minyak sawit ke pasar non tradisional seperti Afrika melonjak tajam hingga 50% dari 1,52 juta ton menjadi 2,29 juta ton pada 2017 . Sedangkan ekspor ke Timur Tengah juga meningkat sebesar 7%, dari 1,98 juta ton menjadi 2,12 juta ton.

Permintaan yang cukup tinggi juga datang dari Uni Eropa, dimana ekspor ke negara tersebut tercatat meningkat 15%, dari 4,37 juta ton menjadi 5,03 juta ton di 2017 diikuti ekspor ke Amerika Serikat (AS) naik 9%, dari 1,08 juta ton ke 1,18 juta ton serta ekspor ke Bangladesh naik 36%, dari 922,85 ribu ton menjadi 1,26 juta ton.

Harga rata-rata minyak sawit pada 2017 pun tercatat tercatat mengalami peningkatan menjadi sebesar US$ 714,3 per metrik ton dibandingkan 2016 yang hanya sebesar US$ 700,4 per metrik ton.

Gapki memprediksi nilai dan volume ekspor pada 2018 diharapkan sejalan dengan target pertumbuhan produksi sebesar 10%. Untuk mengejar peningkatan tersebut, sejumlah pasar tradisional pun saat ini tengah di sasar seperti Timur Tengah, Iran, dan Pakistan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait