Data Ekonomi AS Membaik, Rupiah Stagnan di Level Rp 14.095 per US$

Laju rupiah tertahan penguatan mata uang dolar setelah AS merilis data perekonomian yang dilaporkan membaik.
Agatha Olivia Victoria
4 Juni 2020, 17:33
Data Ekonomi AS Membaik, Rupiah Stagnan di Level Rp 14.095 per US$.
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Karyawan menghitung uang rupiah di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (18/5/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) stagnan pada penutupan perdagangan Kamis (4/6) seiring penguatan dolar.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot Kamis (4/6) sore stagnan dari level penutupan kemarin yakni Rp 14.095 per dolar Amerika Serikat (AS). Laju rupiah tertahan penguatan dolar setelah AS merilis data perekonomian yang  dilaporkan membaik.

Mengutip Bloomberg, indeks dolar AS naik 0,3% ke level Rp 97,57. Dolar AS juga menguat terhadap euro 0,29%, pound Inggris 0,49%, dolar Australia 0,52%, dan dolar Kanada 0,18%.

Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dillar Rate (JISDOR) yang dipublikasikan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan rupiah pada level Rp 14.165, naik 80 poin.

(Baca: Dibuka Melemah, Rupiah Diramal Menguat Imbas Harapan Pemulihan Ekonomi)

Advertisement

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan indeks dolar AS terjadi seiring rilis data ekonomi AS yang  dilaporkan membaik hingga mampu meyakinkan pasar hari ini. "Rilis indeks non-manufaktur AS untuk Mei dan pesanan pabrik untuk periode April meningkat melebihi perkiraan," kata Ibrahim dalam rilis hariannya, Kamis (4/6).

Seperti diketahui, indeks non-manufaktur AS yang dipublikasikan Institute of Supply Management naik menjadi 45,4 pada Mei. Realisasi ini lebih baik dari estimasi sebelumnya  yang berada di level 44,4.

Sementara pesanan pabrik, kendati masih terjadi penurunan 13% pada April,  namun angka ini juga sedikit lebih rendah dari penurunan yang semula diproyeksikan sebesar 13,4%.

Di sisi lain, kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga akhir Juni, namun memberlakukan masa transisi menuai respons positif pasar.

Penerapan masa transisi ini dinilai memberi angin segar bagi perekonomian Ibu Kota lantaran beberapa sektor usaha  sudah mulai dibuka. Dalam masa transisi tersebut perkantoran, mal, pertokoan dan lainnya kembali beroperasi meskipun dibawah pengawasan yang ketat.

Dengan sentimen tersebut, Ibrahim mengungkapkan bahwa arus modal asing yang tadinya keluar pasar kembali masuk. "Mata uang Garuda pun kembali stagnan," ujar dia.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah bakal menguat dengan pergerakan di level Rp 13.950-14.120 per dolar AS.

(Baca: Surat Utang RI Diborong Asing, Rupiah Menguat 2,2% jadi 14.095 per US$)

Adapun bersamaan dengan rupiah, mayoritas mata uang Asia terpantau melemah. Saat berita ini ditulis, yen Jepang naik 0,04% diikuti dolar Singapura 0,28%, dolar Taiwan 0,05%, won Korea Selatan 0,18%, rupee India 0,13%, yuan Tiongkok 0,12%, ringgit Malaysia 0,32%, dan baht Thailand 0,15%.

Sedangkan, hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,01% dan peso Filipina 0,23%. Pergerakkan rupiah dalam sepekan terakhir bisa dilihat dalam grafik databoks berikut:

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait