Investor Awasi Data Ekonomi, IHSG Hari Ini Berpeluang Naik

Investor akan terfokus pada data ekonomi awal bulan, di antaranya data pertumbuhan indeks kinerja manufaktur dan inflasi.
Image title
30 Juni 2020, 07:00
Investor Awasi Data Ekonomi, IHSG Berpeluang Menguat .
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Ilustrasi layar pergerakkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG hari ini diramal menguat jelang rilis data perekonomian awal bulan.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (30/6). Investor akan mencermati rilis data perekonomian Indonesia yang biasanya dirilis awal bulan serta mewaspadai dampak penyebaran virus corona

Pada perdagangan kemarin, Senin (29/6) indeks hampir sepanjang hari berada di zona merah dan ditutup turun 0,05% di level 4.901,81.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan,  IHSG berpotensi kembali berfluktuasi dan mencoba bergerak ke zona hijau. Berdasarkan analisisnya secara teknikal, di level support dan resistance, IHSG akan berada di rentang 4.879-5.000.

"Investor akan terfokus pada data ekonomi awal bulan, di antaranya data pertumbuhan indeks kinerja manufaktur dan inflasi," kata Lanjar.

Advertisement

(Baca: IHSG Naik 0,15% di Tengah Sepinya Transaksi Saham dan Aksi Jual Asing)

Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan indeks harga konsumen pada Juni mengalami penurunan atau deflasi. Hal ini akibat harga sejumlah komoditas yang turun, antara lain bawang putih dan emas.

Perkiraan tersebut berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu keempat Juni. "Inflasi Juni diperkirakan minus 0,01%, lebih rendah dari bulan sebelumnya," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resminya, Jakarta (26/6).

Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi bulan ini secara tahun kalender sebesar 0,9%. Sementara secara tahunan sebesar 1,76%.

Sedangkan untuk kinerja manufaktur, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sebelumnya mengaku optimistis  kinerja industri bakal kembali pulih setelah pembukaan aktivitas perekonomian pada fase normal baru (new normal). 

Dengan sentimen penggerak indeks tersebut, Lanjar pun merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati investor di antaranya PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Aneka Tambang (ANTM), PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Berikutnya, saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Hal senada juga disampaikan oleh analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta dalam risetnya. "Mengindikasikan adanya penguatan IHSG menuju ke area resistance," tulis Nafan dalam risetnya. 

Di area resistance , indeks kemungkinan berada pada level 4.975 dan 5.097. Sedangkan di area support , IHSG akan berada di level 4.865 hingga 4.778.

(Baca: IHSG Turun 0,05%, Investor Asing Jual Saham hingga Rp 600,5 Miliar)

Dia pun merekomendasikan sejumlah saham untuk diperhatikan investor pada perdagangan hari ini, antara lain PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF), PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), PT Bank Jabar Tbk (BJBR).

Berikutnya, saham emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Di sisi lain, Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan justru berpendapat berbeda. Dia memperkirakan, IHSG bakal bergerak melemah dengan area support di level 4.874 hingga 4.847 serta resistance di level 4.931 hingga 4.916.

"Secara teknikal IHSG masih bergerak dalam tren konsolidasi, namun mengindikasikan potensi pelemahan jangka pendek," kata Dennies.

Dia mengatakan, sentimen negatif masih membayangi pasar salah satunya dari perkembangan kasus harian Covid-19 secara global semakin menunjukkan peningkatan dan  makin mengkhawatirkan. Sehingga, hal ini dikhawatirkan pemulihan perekonomian tidak akan bisa berlangsung secara cepat.

Data Worldometer menunjukkan, kasus corona di dunia hingga saat ini telah mencapai 10,29 juta kasus, dengan jumlah terbanyak ada di Amerika Serikat dengan 2,64 juta kasus. Dari angka tersebut, 505 ribu orang meninggal dunia, sementara 5,58 juta lainnya sembuh.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait