Pasar Menanti Kelanjutan PSBB Jakarta, Rupiah Melemah 0,1%

Rupiah melemah di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
13 Agustus 2020, 18:19
Pasar Menanti Keberlanjutan PSBB Jakarta, Rupiah Melemah 0,1%.
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Rupiah ditutup melemah 0,1% pada Kamis (13/8) seiring sikap investor menanti kebijakan PSBB DKI Jakarta.

Nilai tukar rupiah melemah 0,1% ke level Rp 14.775 per dolar AS pada pasar spot Kamis (13/8) dore. Pelemahan terjadi di tengah penantian pasar terkait kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang naik 0,1% diikuti dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,05% dan dolar Taiwan 0,01%. 

Lalu, won Korea Selatan naik 0,15%, peso Filipina 0,17%, ringgit Malaysia 0,04%, dan baht Thailand 0,06%. Hanya rupee India dan yuan Tiongkok yang melemah masing-masing 0,02% dan 0,12%.

Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah pada level Rp 14.877 per dolar AS, turun 10 poin.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan PSBB transisi Jakarta terkahir diberlakukan hari ini. Namun, hingga kini belum ada kejelasan apakah PSBB transisi akan dihentikan atau diperpanjang.

Sebab, jika melihat kasus Covid-19 di Ibu Kota yang masih tergolong tinggi bahkan secara nasional belakangan ini, tak menutup kemungkinan PSBB masih akan diperpanjang dengan berbagai pembatasan.

"Dalam hal ini, Pemprov DKI Jakarta harus berani mengambil keputusan yang tepat apakah akan memperpanjang atau mengehentikan, dan keduanya mempunyai konsekuensi masing-masing," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Kamis (13/8).

Ibrahim menilai, keputusan memperpanjang masa transisi PSBB akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang kemungkinan terkontraksi. Dengan demikian, Indonesia memasuki fase resesi teknikal karena selama dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonominya negatif. 

Namun, jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah dari masa transisi PSBB menjadi masa new normal, maka akan berdampak positif terhadap perekonomian. Sehingga, kegiatan perekonomian akan kembali bergeliat dan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga akan lebih baik, meski hanya 0%.

Alhasil, pasar pun menurutnya tengah menanti keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam mengatasi penyebaran Covid-19 di Ibu Kota. "DKI Jakarta jangan sampai membuat kesalahan fatal dalam mengambil keputusan tersebut karena akan berpengaruh terhadap masa depan ekonomi Indonesia," ujarnya.

Dalam perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah akan fluktuatif. Namun, rupiah berpotensi ditutup menguat tipis di level Rp 14.740-14.800 per dolar AS. Pergerakkan rupiah selama sepekan terakhir bisa dilihat dalam databoks berikut:

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait