Pengobatan Plasma Darah Covid-19 di AS Disetujui, Rupiah Menguat 0,56%

Rupiah bakal menguat terhadap dolar AS hari ini, bersamaan dengan nilai tukar emerging market.
Agatha Olivia Victoria
25 Agustus 2020, 10:18
Rupiah Menguat 0,56% Terdorong Pengobatan Covid-19 Plasma Darah di AS.
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Rupiah menguat 0,56% pada perdagangan Selasa (25/8).

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,56% ke level Rp 14.587 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (25/8) pagi. Penguatan nilai tukar terdorong sentimen positif dari persetujuan pengobatan pasien Covid-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) melalui suntikan plasma darah.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia turut menguat pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang naik 0,08%, dolar Singapura 0,1%, dolar Taiwan 0,2%, won Korea Selatan 0,27%, peso Filipina 0,25%. Berikutnya, ada rupee India naik 0,71%, yuan Tiongkok 0,11%, ringgit Malaysia 0,15%, dan baht Thailand 0,1%. Hanya doalr Hong Kong yang stagnan.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan,  penguatan indeks saham AS semalam, diperkirakan menjadi salah satu pendorong penguatan nilai tukar mata uang Asia pagi ini. Indeks S&P 500 mencetak rekor level tertinggi baru dengan kenaikan 1,01%. 

"Sentimen positif ini juga didukung oleh pengumuman penyuntikan plasma darah untuk perawatan pasien covid-19 disetujui oleh BPOM AS (FDA)," kata Tjendra kepada Katadata.co.id, Selasa (25/8).

Advertisement

Selain itu, rencana percepatan persetujuan vaksin sebelum pemilu Presiden AS oleh  Presiden AS Donald Trump dan penurunan laju penularan Covid-19 di AS sejak pertengahan Agustus, turut menyumbang sentimen positif.

Dengan demikian, diperkirakan rupiah bakal menguat terhadap dolar AS hari ini, bersamaan dengan nilai tukar emerging market lainnya.

"Dengan demikian, rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 14.550-14.750 per dolar AS," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengumumkan penggunaan plasma darah pasien Covid-19 sebagai pengobatan penyakit tersebut. 

Bukti awal menunjukkan plasma darah dapat menurunkan angka kematian dan meningkatkan kesehatan pasien bila diberikan dalam tiga hari pertama perawatan rumah sakit. Namun, belum diketahui jelas apa efek langsung dari pengobatan ini.

"Tampaknya produk tersebut aman dan kami merasa nyaman dengan itu dan kami terus tidak melihat adanya sinyal keselamatan," kata Direktur Pusat Evaluasi dan Riset Biologi Food and Drug Administration, Peter Marks dalam video conference dengan wartawan.

Badan tersebut juga mengatakan telah melalui kajian ini dengan pendekatan yang aman dan telah dianalisis terhadap 20.000 pasien yang menerima perawatan ini. Hingga saat ini, FDa menyebut sudah ada sekitar 70.000 pasien telah dirawat menggunakan plasma darah.

Adapun pasien yang bisa menggunakan pengobatan ini hanya mereka yang berusia di bawah 80 tahun dan tidak menggunakan alat bantu pernapasan. Pasien tersebut memiliki tingkat kelangsungan hidup 35% lebih baik sebulan setelah menerima pengobatan.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait