Harga Karbon Eropa Sentuh € 96/Ton, Tertinggi Sejak Diluncurkan 2005
Biaya yang dikeluarkan pelaku usaha di Uni Eropa untuk memproduksi emisi karbon (CO2) semakin besar. Harga karbon di kawasan tersebut kini mendekati € 100 per ton, tepatnya € 96 pada akhir pekan lalu, Jumat (4/2). Kontrak harga karbon di UE bahkan sempat menyentuh € 97,5 per ton.
Pasar karbon UE yang dikenal dengan nama emission trading system (ETS), mewajibkan pabrik, pembangkit listrik, dan maskapai penerbangan untuk membayar setiap ton CO2 yang mereka hasilkan.
Semakin tinggi harga karbon, maka semakin besar biaya produksi emisi untuk mengatasi dampak pemanasan global. Meski demikian beberapa pelaku usaha di kawasan tersebut ada juga yang menikmati harga karbon gratis untuk membantu mereka tetap kompetitif secara biaya di pasar global.
Harga karbon telah meningkat lebih dari 200% sejak awal 2021 disebabkan beberapa faktor termasuk melonjaknya harga gas yang juga mendorong beberapa pembangkit listrik kembali beralih ke batu bara yang mengakibatkan emisi dan biaya izin karbon yang lebih tinggi.
Analis mengatakan lompatan harga karbon kemungkinan didorong oleh pembelian teknis. Harga karbon diprediksi dapat menembus € 100 per ton lantaran tingginya minat perusahaan pada kontrak opsi CO2 pada harga tersebut.
"Angka tiga digit ajaib, 100 euro/ton, akan menjadi target berikutnya," kata analis Refinitiv seperti dikutip dari Reuters pada Senin (7/2).
Kenaikan harga karbon Eropa mulai terjadi ketika para pembuat kebijakan UE meluncurkan rancangan undang-undang baru untuk mengurangi emisi lebih cepat pada 2030. Termasuk reformasi pasar yang para analis perkirakan akan melonjakkan harga CO2.
Refinitiv mengatakan biaya karbon € 100 dapat mengaburkan perdebatan politik atas kebijakan tersebut, bagaimanapun, dan target UE untuk mengekang emisinya 55% pada tahun 2030, dari tingkat tahun 1990.
Negara-negara termasuk Polandia mengatakan harga CO2 yang tinggi didorong oleh spekulan dan mendesak UE untuk campur tangan di pasar.
Negara UE lainnya memandang harga karbon yang tinggi penting untuk memenuhi tujuan iklim dan menunjukkan penilaian pengawas sekuritas UE baru-baru ini bahwa tidak ada bukti penyalahgunaan di ETS.
Dengan menetapkan harga pada polusi, EU ETS memberikan insentif keuangan bagi perusahaan untuk mengurangi emisi dan berinvestasi dalam teknologi hijau.
Selama bertahun-tahun, harga terlalu rendah untuk mendorong hal itu, mengingat investasi awal yang sangat besar yang diperlukan untuk meningkatkan teknologi hijau di sektor-sektor seperti semen dan pembuatan baja.
Dengan harga CO2 € 100, perkiraan industri menyarankan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dapat menghemat biaya dalam aplikasi termasuk kilang. Meskipun teknologi lain seperti hidrogen yang dihasilkan dari energi terbarukan akan membutuhkan biaya CO2 yang lebih tinggi.
World Research Institute (WRI) mencatat, 27 negara UE menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 3.572 metrik ton setara CO2 (CO2e) pada 2018, terbesar ketiga setelah Cina (Tiongkok) dan Amerika Serikat (AS) di posisi pertama dan kedua. Simak databoks berikut:
