Peringatan Risiko Pemanasan Global 3 Derajat dalam Konferensi Iklim Dunia COP29

Ringkasan
- Konferensi Tingkat Tinggi PBB tentang iklim, COP29, dibuka di Baku, Azerbaijan, menyoroti urgensi untuk melawan pemanasan global yang dapat mencapai tiga derajat, dua kali lipat dari target Paris Agreement, dan menuntut aksi dan terobosan kesepakatan yang lebih agresif dalam pemangkasan emisi serta strategi pendanaan yang efektif.
- Fokus utama COP29 adalah meningkatkan ambisi pemotongan emisi sesuai Nationally Determined Contribution (NDC) dan memperbaharui target pendanaan Iklim, termasuk Dana New Collective Quantified Goal (NCQG), yang mendesak negara maju untuk membiayai upaya pemangkasan emisi negara berkembang dengan target pendanaan minimal US$ 100 miliar per tahun yang akan diperbaharui pasca 2025.
- COP29, juga dikenal sebagai COP keuangan, mengutamakan negosiasi terkait pendanaan iklim termasuk pembaharuan NCQG dan pengenalan Climate Finance Action Fund (CFAF), yang merupakan kontribusi sukarela dari negara dan perusahaan migas serta batu bara, dengan target pendanaan awal sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.

Baku, Azerbaijan - Konferensi Tingkat Tinggi PBB di bidang iklim, COP29, di Baku, Azerbaijan resmi dibuka pada Senin, 11 November 2024. Menteri Ekologi dan Sumber Daya Alam Azerbaijan yang mendapat mandat negara sebagai Presiden COP29 Mukhtar Babayef memperingatkan situasi darurat iklim dan mendorong adanya terobosan kesepakatan dalam konferensi.
“Kebijakan iklim yang sekarang membawa kita pada pemanasan global tiga derajat,” ujarnya dalam pidato pembukaan COP29. Ini dua kali lipat dari target dalam Kesepakatan Paris atau Paris agreement. “Ini bisa jadi bencana bagi miliaran orang,” kata dia.
Dalam konferensi ini, Babayef ingin negara-negara fokus pada dua hal. Fokus pertama, ambisi pemangkasan emisi yang lebih agresif. Ini terkait dokumen rencana aksi iklim atau Nationally Determined Contribution (NDC) terbaru. Negara-negara memiliki tenggat hingga Februari 2025 untuk menyerahkan dokumen tersebut.
Fokus kedua, aksi nyata. Ini soal strategi pendanaan untuk membiayai ambisi tersebut. “Dana New Collective Quantified Goal (NCQG) harus efektif dan cukup,” kata dia. NCQG adalah target pendanaan Iklim murah dari negara maju untuk negara berkembang. Sebelumnya, target disepakati minimal US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1.500 triliun per tahun. Kesepakatan ini berakhir 2025 mendatang sehingga perlu pembaharuan.
Berbagai kajian menunjukkan perlu ada target dana murah yang lebih besar karena kebutuhan negara berkembang untuk aksi iklimnya mencapai triliunan dolar. Pembahasan soal pembaharuan NCQG sudah berjalan tiga tahun, namun belum menemukan kata sepakat.
Sekretaris Eksekutif PBB di bidang Perubahan Iklim SimoN Stiell mengatakan negara-negara harus menyepakati target baru NCQG dalam COP29. “Kalau dua pertiga negara tidak mampu membiayai upaya pemangkasan emisinya, maka setiap negara akan membayar harga yang mahal (brutal price),” kata dia dalam pidatonya. Maka itu, ia meminta negara maju untuk berhenti melihat pendanaan ini sebagai sumbangan melainkan investasi masa depan.
COP29 dijuluki COP Finance alias COP keuangan lantaran agenda utama negosiasi adalah soal pendanaan iklim. Tahun lalu, dalam COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, negara-negara menyepakati transisi menjauh dari energi fosil. Dengan kata lain, COP kali ini ditujukan untuk menemukan jalan pendanaan transisi energi tersebut.
Setidaknya terdapat dua kesepakatan pendanaan murah yang akan diupayakan dalam COP29. Pertama, pembaharuan NCQG. Kedua, Climate Finance Action Fund (CFAF) yaitu kontribusi sukarela pendanaan iklim dari negara dan perusahaan migas serta batu bara, dengan target putaran pertama US$ 1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.
Liputan khusus COP 29 Azerbaijan ini didukung oleh: