Kadar Oksigen di Danau-danau Seluruh Dunia Turun Imbas Pemanasan Global

Ringkasan
- Perubahan iklim telah mencapai tahap kritis dan berdampak pada cuaca, salah satunya mempercepat siklus banjir di Indonesia.
- Periode 2015-2024 tercatat sebagai periode terpanas, dengan anomali suhu pada 2024 melampaui kesepakatan Paris.
- Peningkatan curah hujan ekstrem berkorelasi dengan kenaikan suhu dan konsentrasi Gas Rumah Kaca, menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menemukan bahwa kadar oksigen menurun di danau-danau di seluruh dunia akibat pemanasan iklim berkepanjangan dan meningkatnya gelombang panas.
Para peneliti menemukan tren penurunan tersebut setelah menganalisis data tingkat oksigen terlarut, jumlah oksigen dalam air, di lebih dari 15.000 danau di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.
Penelitian tersebut menemukan bahwa 83 persen danau di seluruh dunia mengalami penurunan kadar oksigen di permukaannya. Tingkat rata-rata hilangnya oksigen di danau lebih tinggi dibandingkan di lautan dan sungai, yang menyoroti betapa seriusnya masalah ini.
Penulis studi tersebut menilai pemanasan iklim merupakan penyebab utama dari penurunan tingkat oksigen ini, yang berkontribusi terhadap 55 persen penurunan oksigen dengan mengurangi kelarutan oksigen. Selain itu, meningkatnya konsentrasi nutrisi di danau, yang dikenal sebagai eutrofikasi, menyebabkan sekitar 10 persen dari total penurunan kadar oksigen.
Dampak Pemanasan Global
Studi tersebut juga menganalisis dampak gelombang panas terhadap penurunan oksigen di permukaan danau. Studi menunjukkan bahwa gelombang panas memberikan dampak yang cepat dan nyata pada penurunan oksigen, yang mengakibatkan penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan dengan kondisi pada suhu rata-rata.
Para penulis mengatakan temuan ini menggarisbawahi dampak mendalam perubahan iklim pada ekosistem air tawar. Padahal ekosistem itu membutuhkan kadar oksigen cukup untuk menopang kehidupan aerobik dan menjaga komunitas biologis tetap sehat.
"Menurunnya oksigen dapat menyebabkan kepunahan spesies, kematian organisme akuatik, dan runtuhnya industri perikanan komersial," kata rekan penulis Zhang Yunlin, seorang peneliti di Institut Geografi dan Limnologi Nanjing di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, seperti dikutip dari Xinhua, Senin (24/3).
Hilangnya oksigen terlarut di danau telah dilaporkan sebelumnya. Misalnya, sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa penurunan terjadi secara luas di permukaan dan perairan dalam danau beriklim sedang.
Namun, penulis studi baru tersebut meyakini bahwa temuan mereka memberikan pandangan yang lebih komprehensif, karena danau yang diteliti adalah danau di seluruh dunia yang memiliki luas lebih dari 10 kilometer persegi. Sebaliknya, danau yang diteliti dalam studi sebelumnya tidak termasuk danau dari zona iklim tropis dan dingin.
Penggunaan Pupuk Harus Dibatasi
Kebutuhan mendesak untuk memerangi meningkatnya ancaman kehilangan oksigen juga ditekankan.
Rekan penulis Shi Kun, juga seorang peneliti dari lembaga yang berpusat di Nanjing, mengatakan bahwa upaya harus difokuskan pada pengurangan konsentrasi nutrisi di danau, seperti membatasi penggunaan pupuk dan emisi limbah ternak, serta meningkatkan pengelolaan air limbah domestik dan industri perkotaan.
"Menanam vegetasi terendam dan membangun lahan basah juga dapat membantu memulihkan ekosistem danau," kata Shi kepada Xinhua.
Para peneliti dari Universitas Nanjing di China dan Universitas Bangor di Inggris juga berpartisipasi dalam penelitian ini.