Melestarikan Pangan Lokal Demi Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Hari Widowati
15 Juni 2025, 08:11
pangan, ketahanan pangan, pangan lokal
Dok. Yayasan Humanis
Lingkar Diskusi \"Merawat Cerita-Cerita Pangan Lokal\" yang diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), pada Jumat (13/6), di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, membahas perlunya upaya untuk melestarikan pangan lokal demi ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di tengah maraknya makanan olahan dan pola konsumsi modern, mengolah dan mengonsumsi kembali pangan lokal guna menjaga identitas budaya dan ketahanan pangan semakin penting. Pelestarian keberagaman lokal akan mendorong pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Hal ini terungkap dalam Lingkar Diskusi "Merawat Cerita-Cerita Pangan Lokal" yang diselenggarakan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), pada Jumat (13/6), di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Rodearni Purba, Public Relations & Fundraising Officer IDEP Foundation, mencontohkan program yang dilakukan IDEP Foundation di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Program tersebut menggunakan pendekatan permakultur atau sistem pengelolaan tanah dan sumber pangan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

"Bicara ketahanan pangan seringkali bersifat makro, padahal kebutuhan pangan sangat beragam. Melalui pendekatan yang dilakukan oleh IDEP, kita bisa melihat bagaimana ketahanan pangan dapat ditingkatkan ke level keluarga dan komunitas," ujar Rodearni.

Program pelatihan permakultur tersebut menginspirasi petani untuk mengembangkan praktik agroekologi, yang tidak hanya produktif, tetapi juga menjaga siklus alam dan memperkuat kemandirian pangan keluarga.

IDEP memberikan pelatihan dan pendampingan bagi petani lokal agar mampu mengelola lahannya secara regeneratif dan mandiri. Program pelatihan permakultur juga menawarkan opsi alternatif untuk mengelola lahan yang ada. "Pekarangan rumah yang sebelumnya lahan kosong dapat dimanfaatkan untuk produksi pangan yang difokuskan pada konsumsi keluarga," kata Rodearni.

Riset IDEP Foundation menembukan banyak potensi pangan lokal khas yang hanya ada di Kapuas Hulu. "Masyarakat belum menggunakan pangan lokal karena hanya tahu mengolahnya untuk satu jenis makanan. IDEP menginisiasi pelatihan mengolah pangan lokal agar memiliki nilai tambah," ujarnya.

Pada program ini, para petani dibekali pengetahuan untuk beralih dari praktik pertanian monokultur ke sistem pertanian regeneratif. Mereka juga diberikan pemahaman bahwa pertanian bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan dan keberlanjutan.

Mendokumentasikan Keragaman Pangan Lokal

Sementara itu, Nusantara Food Biodiversity mendukung keanekaragaman hayati pertanian berkelanjutan dan upaya kembali ke pangan lokal dengan mendokumentasikan keragaman pangan dan budayanya. Nusantara Food Biodiversity menyajikan ragam data dan budaya dari pangan lokal, mulai dari proses produksi, panen, pengolahan, cara penyimpanan dan penyajiannya, hingga sejarah dan kebijakan terkait pangan di seluruh Indonesia.

"Kita harus jaga pangan lokal supaya tidak hilang karena yang tahu cara mengolahnya adalah masyarakat lokal. Misalnya, ada jenis tanaman kacang-kacangan yang beracun di Nusa Tenggara Timur, tapi masyarakat kita tetap bisa mengolahnya secara khusus untuk dimakan," ujar Ahmad Arif, Inisiator Nusantara Food Biodiversity.

Arif mengajak generasi muda sebagai konsumen pangan lokal untuk mendokumentasikan identitas pangan dan budayanya. "Perlu ditanamkan rasa kebanggaan mereka pada pangan lokal yang dimiliki daerahnya. Sejauh ini, lebih dari 500 data pangan daerah dari Aceh hingga Papua berhasil terdokumentasi. Semua orang bisa bergabung sebagai kontributor," kata Arif.

Inovasi untuk Melestarikan Pangan Lokal

Upaya-upaya untuk melestarikan keragaman pangan lokal dan budaya di Indonesia harus disertai inovasi. Chef Ragil Iman Wibowo, Co-founder Nusa Gastronomy, mengatakan kuliner nusantara bisa disajikan dengan konsep modern, yang melibatkan seni dan pemaknaan dari makanan.

"Banyak daerah dengan resep lokal yang belum diketahui oleh publik, termasuk dari komunitas adat dan petani kecil yang sangat menarik untuk terus dieksplorasi. Resep tersebut kami kembangkan dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya dan kearifan lokal," ujarnya.

Ia mencontohkan sukun yang tersebar luas dari Aceh hingga Papua, dapat diolah menjadi keripik yang nikmat. "Sukun juga dapat dimasak menjadi makanan modern yang dapat dijual di kafe," kata Chef Ragil.

Finalis Masterchef Indonesia, Laode Saiful Rahman, mengatakan pangan lokal bisa ditonjolkan dengan kekayaan nusantara yang ada pada bahan-bahan lokal. "Sebagai orang muda yang mendalami ilmu gastronomi daerah, saya memperkenalkan makanan khas daerah dengan cara kekinian tanpa menghilangkan budaya dan tradisinya," ujar pria asal Pulau Muna, Sulawesi Tenggara ini.

Ia pernah mencicipi nasi padeh dari Sumatera Barat. Makanan yang terbuat dari beras ini dicampur dengan berbagai tumbuhan dan rempah. Inspirasi nasi padeh ini dibawanya ke Sulawesi di mana terdapat berbagai jenis tumbuhan yang dapat dikonsumsi.

Sementara itu, Esty Yuniar, Peneliti Semesta Sintang Lestari, membagikan pengalamannya membuat biskuit dari ikan toman, ikan yang banyak ditemukan di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Ikan toman mengandung protein tinggi dan dapat mengatasi masalah stunting yang cukup tinggi di Kabupaten Sintang.

Esty mengungkapkan, produk tersebut mendapatkan respons positif dan terus dikembangkan di Kabupaten Sintang. Ia juga mendorong masyarakat untuk menanam sayuran untuk konsumsi sehari-hari di lahan pekarangan untuk melestarikan pangan lokal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...