BMKG Prediksi Musim Kemarau Tahun Ini Lebih Pendek
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah di Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih pendek dari perkiraan pada tahun ini. Hal ini disebabkan curah hujan yang lebih tinggi daripada kondisi normal
Musim kemarau yang lebih pendek ini diperkirakan akan meningkatkan hasil panen padi di Indonesia. BMKG sebelumnya memprediksi musim kemarau bakal berlangsung normal tahun ini, dimulai pada bulan April di sebagian besar wilayah, dengan puncaknya terjadi antara bulan Juni hingga Agustus.
“Prediksi kami menunjukkan bahwa ada anomali curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya... ini menjadi dasar utama untuk memprediksi musim kemarau yang tertunda tahun ini,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dalam sebuah pernyataan tertulis, akhir pekan lalu, seperti dikutip Reuters.
"Musim hujan yang lebih panjang akan menguntungkan para petani padi karena pasokan air akan tetap tersedia," kata Dwikorita. Ia menambahkan, pada awal Juni, hanya 19% wilayah di Indonesia yang telah mengalami musim kemarau.
Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia pada periode Januari sampai Juli 2025 diperkirakan naik 14,93% per tahun menjadi 21,76 juta metrik ton. Indonesia menargetkan produksi beras mencapai 32 juta ton tahun ini, lebih tinggi daripada tahun lalu yang mencapai 30,62 juta ton.
Curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya diperkirakan akan terjadi di bagian selatan Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.
Beberapa bagian dari Sumatera dan provinsi-provinsi di Pulau Kalimantan akan menjadi yang pertama menghadapi musim kemarau.
BMKG ini mendesak semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, untuk merencanakan pola iklim yang tidak menentu akibat perubahan iklim.
Hujan lebat turun di beberapa bagian Indonesia dari bulan Januari hingga Maret. Hujan lebat yang terjadi pada awal Maret memicu banjir hingga ketinggian 3 meter di Jakarta dan sekitarnya. Ribuan orang harus dievakuasi akibat bencana ini.
Fenomena Solstis Utara Penanda Dimulainya Musim Kemarau
Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengungkapkan fenomena astronomi yang dikenal sebagai solstis utara yang terjadi setiap tahun pada 21 Juni menjadi penanda awal musim kemarau di Indonesia.
Di belahan Bumi utara, seperti Eropa, Amerika Utara, dan Asia bagian utara, solstis utara menandai awal musim panas.
"Pada solstis utara, matahari mencapai titik paling utara di langit dan menjadi penanda penting dalam siklus musim," kata Thomas, di Jakarta, Jumat (20/6), seperti dikutip Antara.
Fenomena solstis merupakan hasil kemiringan 23,3 derajat sumbu rotasi Bumi. Sejak 22 Desember hingga 21 Jui, titik terbit dan terbenam matahari secara perlahan bergeser ke arah utara. Pada 21 Juni, matahari tampak 'berhenti' di titik paling utara sebelum kembali bergeser ke selatan.
Perubahan posisi matahari menyebabkan pergeseran pemanasan Bumi yang memengaruhi arah angin dan pergerakan awan. "Setelah solstis utara, angin secara umum mulai bertiup dari selatan ke utara. Angin ini mendorong pembentukan awan ke arah utara, sehingga Indonesia secara umum mulai memasuki musim kemarau," tuturnya.
