Populasi Hiu Paus Turun 50%, RI Perlu Lindungi Koridor Ekologis Laut
Populasi hiu paus (Rhincodon typus) global diperkirakan telah merosot lebih dari 50% dalam 75 tahun terakhir. Hiu paus terancam oleh kondisi perairan yang semakin mengkhawatirkan, salah satunya meningkatnya risiko tabrakan dengan kapal.
Para peneliti memperkirakan jumlah hiu paus di dunia saat ini sekitar 130.000 hingga 200.000 ekor. Sejak 2016, hiu paus terdaftar sebagai hewan yang terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Hiu paus dikenal sebagai perenang jarak jauh yang mampu menempuh jarak lebih dari 15.000 kilometer dan menyelam hingga kedalaman 2.000 meter. Hiu paus membutuhkan laut yang aman untuk bertahan hidup.
Konservasi Indonesia dan Pertamina International Shipping (PIS), unit usaha Pertamina yang bergerak di bidang industri perkapalan dan logistik maritim, mendorong perlindungan koridor ekologis laut di Indonesia. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan Edukasi Koridor Satwa Laut, yang melibatkan peningkatan literasi bagi 130 pelaut PIS, di Jakarta, pada Rabu (25/6).
"Kami melihat keselamatan spesies besar laut, seperti hiu paus, bukan hanya tanggung jawab lembaga konservasi, tapi juga industri pelayaran. PIS mendukung pengembangan jalur pelayaran ramah satwa karena ini merupakan investasi strategis jangka panjang," ujar Muhammad Irfan Zainul, Direktur Armada PIS, dalam keterangan tertulis, Kamis (26/6).
PIS melihat keterlibatan aktif industri perkapalan dan logistik dalam konservasi spesies laut juga berkontribusi pada penguatan reputasi industri ini di mata dunia. Ia yakin pelayaran modern bisa berjalan seiring dengan upaya pelestarian laut.
"Inisiatif perlindungan koridor migrasi bukan hanya soal spesies, tapi soal keberlanjutan laut sebagai sumber kehidupan," kata Irfan.
Pelaut Perlu Memahami Pergerakan Hiu Paus
Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, mengatakan memahami pergerakan hiu paus merupakan kunci dalam menyelamatkan populasi mereka.
"Populasi global hiu paus telah mengalami penurunan drastis hingga 50%. Dalam konteks konservasi, pemulihan bisa memakan waktu hingga satu abad, dan Indonesia berada di jalur penting migrasi spesies yang terancam punah ini," kata Iqbal.
Dengan mengetahui pergerakan, waktu, dan durasi hiu paus, awak kapal bisa mencegah tabrakan kapal yang menjadi salah satu ancaman bagi spesies tersebut.
"Berdasarkan kajian tagging hiu paus oleh peneliti global yang melibatkan Konservasi Indonesia, dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PNAS, kombinasi data pergerakan satelit hiu paus dan aktivitas kapal menunjukkan 92% ruang gerak horizontal dan hampir 50% ruang vertikal yang digunakan hiu paus tumpang tindih dengan lalu lintas kapal besar," ujar Iqbal.
Studi tersebut juga menunjukkan estimasi risiko tabrakan berkorelasi erat dengan laporan kematian hiu paus akibat tabrakan kapal. Hal ini menunjukkan tingkat mortalitas lebih tinggi di wilayah dengan tingkat tumpang tindih tertinggi.
Studi tersebut mensimulasikan mitigasi di habitat inti hiu paus di Teluk Meksiko, langkah sederhana ini terbukti efektif mengurangi risiko tabrakan dengan hiu paus tanpa membebani operasional kapal. Pendekatan berbasis musim juga menjadi kunci.
Di wilayah-wilayah tertentu yang menjadi lokasi migrasi atau agregasi hiu pus, perlu diterapkan zona manajemen musiman dengan pembatasan kecepatan kapal maksimal 10 knot. Bahkan, zona perlambatan temporer yang diberlakukan setelah deteksi keberadaan satwa, hingga pelarangan melintas di area penting saat musim agregasi. Hal itu terbukti mampu mengurangi interaksi berisiko tinggi.
"Teknologi juga memegang peran penting dalam mitigasi ini, pemanfaatan buoy akustik (alat sensor suara), radar termal, serta platform deteksi real-time, memungkinkan pelacakan mamalia laut dan hiu paus secara harian," kata Iqbal.
Dengan menggabungkan data tagging satelit dan sistem pelacakan kapal, pelaut bisa mengidentifikasi zona risiko tinggi dan memberi peringatan dini kepada operator kapal. Hal ini sangat penting untuk mencegah tabrakan hiu paus dengan kapal.
Hiu paus adalah spesies kosmopolitan yang menghuni perairan tropis dan hangat di seluruh dunia, kecuali Laut Mediterania. Namun, penurunan populasi hiu paus secara global cukup mengkhawatirkan. Jika tidak ada intervensi serius, pemulihannya diperkirakan bisa memakan waktu hingga satu abad.
Iqbal menyebut Indonesia merupakan jalur penting migrasi hiu paus kawasan Indo-Pasifik, sehingga perlindungan terhadap spesius ini menjadi prioritas yang mendesak. Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan jalur migrasi hiu paus dari sudut pandang ekonomi biru yang berkelanjutan.
"Industri pariwisata hiu paus secara global kini bernilai lebih dari US$ 42 juta (Rp 680,6 miliar, kurs Rp 16.220/US$) per tahun. Ini menunjukkan upaya menjaga mereka tetap hidup dan sehat bukan sekadar tanggung jawab konservasi, tetapi juga investasi bagi masa depan masyarakat pesisir dan sektor pariwisata Indonesia," ujar Iqbal.

