Amerika Selatan Diserang Udara Dingin Saat Gelombang Panas Melanda Eropa
Ketika Eropa dan Amerika Utara mengalami gelombang panas, orang-orang di Amerika Selatan harus menghadapi cuaca yang sama ekstremnya di ujung lain spektrum: hawa dingin yang tiba-tiba datang. Di Buenos Aires, Argentina, penduduk setempat membungkus tubuhnya dengan syal, jaket tebal, dan topi wol. Mereka menyeruput minuman panas saat mobil-mobil berlapis es di pagi hari.
Suhu di kota ini turun di bawah nol derajat. Ini merupakan hal yang jarang terjadi bahkan pada musim dingin di Belahan Bumi Selatan yang saat ini sedang berlangsung dan berlawanan dengan musim di Belahan Bumi Utara.
Suhu tinggi di bagian utara dan tengah Amerika Serikat konsisten melanda sejak akhir Juni lalu. Beberapa negara mengeluarkan peringatan akan gelombang panas yang bisa berdampak pada kesehatan manusia.
Perubahan iklim dengan suhu tinggi yang datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Aspal dan beton di kota-kota memperparah dampaknya dengan menyerap dan memancarkan panas.
Di Argentina serta negara-negara tetangganya, Chili dan Uruguay, hawa dingin menyebabkan turunnya salju yang tak terduga di beberapa daerah, dengan angin dingin dari Antartika ke selatan. Banyak rumah dan kantor yang tidak dibangun untuk kondisi seperti ini.
“Saat ini saya memiliki baju hangat di balik pakaian saya, celana panjang, dan celana panjang lain di atasnya,” kata Gael Larrosa, seorang mahasiswa di Buenos Aires seperti dikutip Reuters, Rabu (2/7).
Ia mengalami kesulitan dengan hawa dingin. "Di sini hawa dingin membunuh Anda, benar-benar membunuh Anda," tuturnya.
Cuaca Ekstrem Mengganggu Perjalanan
Melansir laporan Travel and Tour World, cuaca dingin dan hujan lebat telah mendatangkan malapetaka di seluruh Amerika Selatan. Brasil, Argentina, Chili, Peru, Uruguay, Bolivia, dan Paraguay mengalami gangguan perjalanan yang meluas.
Badai yang parah, termasuk hujan yang sangat dingin, angin kencang, dan berkurangnya jarak pandang, menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan yang signifikan di bandara-bandara utama di seluruh wilayah tersebut.
Di Brasil, beberapa bandara utama, termasuk São Paulo-Guarulhos dan Rio de Janeiro/Galeão, terkena dampak yang parah. Argentina dan Chili juga menghadapi tantangan yang sama.
Hujan deras dan suhu rendah telah mempengaruhi penerbangan di Peru, Uruguay, Bolivia, dan Paraguay, sehingga menyebabkan tantangan operasional bagi maskapai penerbangan. Ribuan penumpang telantar. Dengan cuaca dingin yang diperkirakan akan semakin parah, para wisatawan harus bersiap-siap menghadapi penundaan dan gangguan dalam beberapa hari ke depan.
Rekor Suhu Dingin di Amerika Selatan
Selama akhir pekan lalu, sebagian besar wilayah Amerika Selatan bagian selatan mengalami penurunan suhu 10 hingga 15°C di bawah tingkat normal pada musim ini. Di beberapa daerah, suhu dinginnya sangat ekstrem, dengan suhu terendah di malam hari mencapai titik beku.
Kota Puerto Natales di Chili, yang terletak di dekat ujung selatan benua ini, melaporkan suhu -15,7°C pada hari Minggu (29/6), hampir 14°C lebih rendah daripada suhu minimum pada bulan Juni.
Meskipun suhu di bawah nol derajat Celcius merupakan hal yang biasa terjadi di Chili bagian selatan selama musim dingin, intensitas dan luasnya suhu dingin ini telah menyebabkan peringatan cuaca beku yang meluas di Chili, Argentina, dan Uruguay. Suhu beku ini memiliki dampak yang signifikan, terutama pada pertanian, karena tanaman berisiko mengalami kerusakan akibat kondisi yang sangat dingin.
