AHY: Indonesia Nanti Tak Hanya Diukur dari PDB, tapi Infrastruktur Berkelanjutan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa Indonesia di masa depan tidak bisa lagi hanya menilai kemajuan bangsa dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada 2045, keberhasilan pembangunan Indonesia juga akan ditentukan dari seberapa tangguh, adil, dinamis, dan berkelanjutan pertumbuhan yang dicapai.
“Indonesia pada 2045 tidak akan dinilai hanya dari PDB. Ia akan diukur dari apakah pertumbuhan kita tangguh dan adil, dinamis dan berkelanjutan. Kita tidak bisa lagi bergantung pada model pertumbuhan lama yang didorong oleh bahan bakar fosil dan praktik ekstraktif,” ujar AHY dalam PYC International Eenergy Conference, Sabtu (23/8).
AHY mengungkapkan, saat ini Indonesia tengah berada di persimpangan penting dalam transisi energi. Hingga 2024, porsi energi terbarukan baru mencapai 14%, masih tertinggal dari target 23% yang harus dicapai pada 2025.
Menurutnya, hal ini menjadi tantangan mendesak yang harus segera dijawab dengan langkah konkret.
“Masa depan harus dibangun di atas infrastruktur berkelanjutan. Infrastruktur yang bukan hanya kokoh dan efisien, tetapi juga rendah karbon, tangguh terhadap iklim, dan inklusif,” ujarnya.
Meski masih menghadapi banyak pekerjaan rumah, AHY menyebut sejumlah sektor telah menunjukkan perkembangan signifikan. Di bidang transportasi misalnya, telah hadir bus listrik yang mengubah mobilitas perkotaan, MRT, LRT, hingga kereta cepat yang mampu mengurangi emisi dan kemacetan.
Lalu di bidang maritim dan penerbangan, ada pembangunan pelabuhan hijau serta bandara berkelanjutan dengan energi terbarukan dan sistem efisiensi tinggi. Di bidang pekerjaan umum telah terbentuk jalan dan bendungan yang dirancang bukan hanya untuk kapasitas, tetapi juga untuk ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
Sementara bidang perumahan kini memiliki konsep pembangunan berbasis transit (transit-oriented development) yang mulai dikembangkan untuk menghubungkan hunian terjangkau dengan transportasi publik, sekaligus menekan permintaan energi dan meningkatkan kualitas hidup.
Infrastruktur untuk Manusia
AHY menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak semata soal baja dan beton. Menurutnya, infrastruktur harus dipandang sebagai instrumen yang langsung menyentuh manusia dan kehidupan sehari-hari.
"Infrastruktur adalah tentang manusia, bagaimana ia mampu membuka peluang, meningkatkan kualitas hidup, dan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak merusak lingkungan,” tambah AHY.
Selain itu ia mengatakan jika transisi hijau menawarkan potensi penciptaan lapangan kerja yang besar, terutama di sektor energi surya, biomassa, dan panas bumi.
"Untuk itu Indonesia membutuhkan pendekatan terpadu agar transisi energi dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan bisa saling memperkuat," imbuhnya.
