Tangerang Catatkan Kualitas Udara Terburuk, Badung Jadi yang Terbaik

Hari Widowati
29 Agustus 2025, 06:41
Tangerang, kualitas udara, polusi udara
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz
Foto udara pembangunan jalan layang di Tenjo, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (8/8/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kota Tangerang, Banten mencatatkan kualitas udara terburuk di Indonesia pada Jumat (29/8) pagi. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.35 WIB, Tangerang memiliki indeks AQI poin sebesar 105 atau berada pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif.

Berikut ini lima kota dengan kualitas udara terburuk pagi ini:
1. Tangerang, Banten dengan AQI poin 105 atau berada pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif
2. Tangerang Selatan, Banten dengan AQI poin 82 atau berada pada kategori sedang
3. Surabaya, Jawa Timur dengan AQI poin 78 atau kategori sedang
4. Bandung, Jawa Barat dengan AQI poin 68 masuk kategori sedang
5. Jakarta dengan AQI poin 68 masuk kategori sedang

Kota dengan kualitas udara terbaik di Indonesia pada pagi ini adalah Badung, Bali dengan AQI poin sebesar 45 atau berada dalam kategori baik. Adapun kota dengan kualitas udara terbaik dunia pada pagi ini ditempati oleh Melbourne, Australia dengan AQI poin 8 atau berada pada kategori baik.

Indeks AQI menunjukkan konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Kategori baik memiliki rentang PM 2,5 sebesar 0-50. Kategori sedang dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang PM 2,5 101-150.

Berikutnya kategori tidak sehat dengan rentang PM 2,5 di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat sebesar 200-299, dan kategori berbahaya dengan rentang PM 2,5 sebesar 300-500. Kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udara dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

Kualitas udara masuk kategori berbahaya dengan rentang PM 2,5 sebesar 300-500. Secara umum, kualitas udara pada rentang tersebut dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...