PBB Batasi Jumlah Staf di KTT IKlim COP30 Karena Keterbatasan Akomodasi
Harga hotel yang tinggi untuk KTT Iklim COP30 Brasil pada bulan November telah mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendesak stafnya membatasi kehadiran. Sementara itu, delegasi negara-negara masih berjuang mencari kamar sesuai anggaran mereka.
Langkah ini diambil karena delegasi semakin khawatir tentang biaya akomodasi di kota pesisir Amazon, Belém, yang menjadi tuan rumah COP30. Brasil sedang berupaya untuk menggandakan jumlah tempat tidur hotel yang tersedia, tetapi harga akomodasi yang melonjak telah memicu seruan dari beberapa negara untuk memindahkan lokasi konferensi. Akan tetapi, usulan ini telah ditolak oleh pejabat Brasil.
"Mengingat keterbatasan kapasitas di Belem, saya ingin dengan hormat meminta para kepala sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa, badan-badan khusus, dan organisasi terkait lainnya untuk meninjau kembali ukuran delegasi mereka di COP 30 dan mengurangi jumlahnya jika memungkinkan," kata Sekretaris Eksekutif Sekretariat Iklim PBB (UNFCCC), Simon Stiell, dalam sebuah dokumen yang diterbitkan di situs web UNFCCC, seperti dikutip Reuters, Selasa (16/9).
Dalam sebuah pernyataan, Kepresidenan COP30 Brasil mengatakan telah menegaskan kembali komitmennya untuk mengamankan 15 kamar tunggal dengan tarif antara US$ 100 dan US$ 200 atau Rp 1,64 juta dan Rp 3,28 juta (kurs Rp 16.400/US$), mempertahankan standar yang diadopsi di COP lainnya.
Brasil juga mengatakan pihaknya mendukung permintaan perwakilan negara untuk meningkatkan batas harian (per diem) PBB untuk Belém - saat ini ditetapkan sebesar US$ 144 (Rp 2,36 juta) - agar sesuai dengan tarif kota-kota Brasil lainnya seperti Rio de Janeiro (US$ 229 atau Rp 3,75 juta), São Paulo (US$ 234 atau Rp 3,84 juta), dan Paraty (US$ 435 atau Rp 7,13 juta).
Negara-negara Berkembang Tak Mampu Bayar Akomodasi yang Mahal
Hampir setiap negara di dunia akan berkumpul di KTT PBB tahunan untuk menegosiasikan upaya untuk mengekang perubahan iklim.
Namun, negara-negara berkembang telah memperingatkan bahwa mereka tidak mampu membayar harga akomodasi di Belem, yang telah melonjak di tengah kekurangan kamar.
Pada pertemuan perwakilan negara-negara dan pejabat PBB bulan lalu, UNFCCC meminta Brasil untuk mensubsidi harga hotel untuk memastikan kamar seharga US$ 100 (Rp 1,64 juta) per hari untuk delegasi dari negara-negara termiskin di dunia dan US$ 400-US$ 500 (Rp 6,56 juta-Rp 8,2 juta) per hari untuk negara-negara lain.
Miriam Belchior, Sekretaris Eksekutif untuk Kepala Staf Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, mengatakan kepada wartawan bahwa Brasil sudah menanggung biaya yang signifikan untuk menjadi tuan rumah COP30. Brasil tidak dapat memberikan subsidi lebih lanjut. Brasil telah menawarkan kamar kepada negara-negara miskin dengan harga sekitar US$ 200 (RP 3,28 juta) per malam.
Perwakilan negara-negara dan pejabat PBB dijadwalkan untuk bertemu lagi minggu ini untuk membahas situasi akomodasi untuk COP30.
