Alasan Warga RI Sulit Tiru Budaya Pilah Sampah Ala Jepang dan Korea Selatan

Ajeng Dwita Ayuningtyas
21 September 2025, 14:21
Pilah sampah di Jepang, pilah sampah di korea selatan,
Japan Experience
Pilah sampah di Jepang
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Project Manager Waste4Change Nur Rakhmah Latifah menilai setidaknya dua faktor penghambat budaya pilah sampah untuk tumbuh di Indonesia, yakni karakteristik geografis dan keberadaan infrastruktur pendukung. 

Lety membandingkan warga Indonesia dengan budaya pilah sampah yang sudah lama terbangun di Jepang dan Korea Selatan. 

“Indonesia negara kepulauan, sedangkan Jepang dan Korea cenderung terpusat, memang di situ penduduk mereka bermukim. Jadi mungkin penyebaran informasi dan pendidikan tentang peduli lingkungan cenderung lebih mudah,” kata Lety saat ditemui usai World Cleanup Day Indonesia 2025 di Jakarta, Minggu (21/9).

Menurut Lety, budaya yang sudah terbentuk puluhan tahun itu sangat mendukung kebiasaan pilah sampah dari sumber, serta pengelolaan sampah dengan lebih komprehensif. Sementara di Indonesia, kebiasaan ini masih berusaha dibentuk. 

Persoalan lain yang menghambat Indonesia adalah belum siapnya infrastruktur pengelolaan sampah berkelanjutan. Meskipun pemerintah sudah sangat ambisius menetapkan target sampah terkelola, Lety menilai sistem dan infrastruktur saat ini belum cukup mendukung ambisi tersebut.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025 - 2029, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target sampah terkelola 100% pada 2029. Akan tetapi, Lety justru menganggap progresnya masih sangat jauh. 

“Mungkin pencapaian Indonesia bersih pada 2029, sekitar 30% - 40%,” Lety menambahkan. 

Project Manager Waste4Change, Lety, saat menyampaikan pandangannya di talkshow World Cleanup Indonesia 2025, Jakarta, Minggu (21/9).
Project Manager Waste4Change, Lety, saat menyampaikan pandangannya di talkshow World Cleanup Indonesia 2025, Jakarta, Minggu (21/9). (Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas)

Budaya Pilah Sampah di Jepang dan Korea Selatan

Pengelolaan sampah di Jepang dimulai sejak abad ke-19. Tepatnya pada Zaman Edo atau awal mula zaman modern di Jepang. Kala itu, mendaur ulang sampah mulai menjadi kebiasaan.

Pada 1970, Jepang pertama kali mengesahkan Waste Management and Public Cleansing Law, hukum pengelolaan sampah yang terus disesuaikan hingga kini. 

Kemudian pada 1993, dibuat sistem basic environment act atau regulasi dasar kebijakan lingkungan, sistem legal yang dinilai mampu mendorong masyarakat untuk mendaur ulang sampah. 

Namun, pada dasarnya, konsep utama pengelolaan sampah di negara ini serupa dengan apa yang sedang diupayakan di Indonesia. Jepang menerapkan konsep reduce, reuse, recycle (3R), serta konsep heat recovery dan proper disposal. 

Reduce atau mengurangi timbulan sampah, dimulai dengan membawa kantong belanja sendiri atau mengisi ulang bahan kebutuhan rumah tangga dari toko curah. Konsep reuse dilakukan dengan memanfaatkan kembali barang atau material yang masih layak pakai.

Kemudian, konsep recycle dilakukan dengan melebur, mencacah, atau melelehkan sampah untuk dibuat menjadi produk baru.

Jepang juga memanfaatkan insinerator sampah, dimana panas dari pembakaran digunakan untuk membangkitkan listrik. Sementara, proper disposal dilakukan ketika tidak ada cara pembuangan lain, maka sampah dibuang secara benar ke TPA. 

Selain itu, Waste4Change menilai budaya pemilahan sampah di Korea Selatan tidak hanya datang dari kesadaran masyarakat, melainkan didorong ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah di titik yang terjangkau masyarakat.

Hampir setiap lingkungan perumahan di negara ini memiliki tempat pengelolaan sampah. Hal ini memudahkan masyarakat untuk mengantarkan sampah ke tempat pengelolaan. 

Selain itu, Pemerintah Korea Selatan dinilai cukup tegas membatasi penggunaan alat makan sekali pakai bagi warganya.

Pemerintah Dorong Warga RI Pilah Sampah

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menilai World Cleanup Day sebagai momentum membangun kesadaran lingkungan dan mengubah kebiasaan. 

“Aksi bersih-bersih hanya langkah awal, yang penting adalah konsistensi menjalankan kebiasaan baik setiap hari,” kata Hanif dalam pidatonya saat peringatan World Cleanup Day di Banten, Sabtu (20/9).

Kebiasaan mengolah sampah dari rumah, menurut Hanif, akan mengurangi beban TPA. Hal ini sekaligus menerapkan sirkular ekonomi, upaya memperpanjang siklus suatu produk untuk terus digunakan selama mungkin. 

World Cleanup Day merupakan gerakan membersihkan lingkungan dari sampah, yang diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB sejak tahun lalu. Agenda ini diperingati setiap 20 September. 

Tahun ini, Indonesia ikut melaksanakan World Cleanup Day bersama 211 negara lainnya. Ketua World Cleanup Indonesia Andy Bahari menargetkan keterlibatan relawan hingga tiga juta orang di seluruh Indonesia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...