Satgas Temukan Tingkat Radiasi Normal di Perusahaan Eksportir Cengkeh
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Ketua Harian Satgas Penanganan Cesium-137, Hanif Faisol Nurofiq, menjelaskan temuan awal perihal tingkat radiasi di perusahaan eksportir cengkeh terduga terpapar Cesium-137. Satgas menemukan tingkat radiasi berada pada angka normal. Berbeda dengan temuan di Kawasan Industri Cikande yang mencapai 1.000 mikrosievert per jam.
“Itu di sana (lokasi perusahaan cengkeh) rata-rata 0,07 atau 0,04 mikrosievert, itu nilai paparan dari kondisi background alam,” kata Hanif, saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/10).
Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) melaporkan temuan paparan Cesium-137 pada cengkeh yang diimpor dari PT NJS. Saat ini, produk terduga terpapar masih belum datang (re-impor). Oleh karena itu, pemeriksaan baru dilakukan di lokasi perusahaan.
Tinjauan tersebut dilakukan oleh tim gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Gegana Polri.
Meskipun demikian, Hanif menjelaskan akan tetap melakukan tinjauan langsung ke lokasi Sabtu (4/9) mendatang.
“Saya tidak tahu ini (paparan radiasi) dari mana, namun kami akan ke sana untuk memastikan itu,” tambah Hanif.
Temuan Paparan Cesium-137 dari Dua Produk Indonesia
Satgas Penanganan Cesium-137 tengah menangani dua kasus paparan radioaktif tersebut, pada dua produk ekspor asal Indonesia. Keduanya diawali dari laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat. Kedua produk tersebut adalah udang beku dari PT Bahari Makmur Sejati dan cengkeh dari PT NJS.
Lokasi sumber paparan Cesium-137 pada udang beku, yaitu Kawasan Industri Modern Cikande, sudah disegel. Kasus tersebut juga ditetapkan sebagai kejadian khusus. Sementara, investigasi pada kasus cengkeh masih berada di tahap awal.
Hanif mengatakan sudah ada rapat koordinasi dengan para ahli untuk menangani kasus ini. Akan tetapi, Hanif belum mendapat laporan detail mengenai korban yang terpapar radiasi Cesium-137. “Beberapa masyarakat yang teridentifikasi, terpapar, telah ditangani serius oleh teman-teman Kementerian Kesehatan,” kata Hanif.
