McKinsey: Bahan Bakar Fosil Masih Mendominasi hingga 2050
Bahan bakar fosil seperti minyak, gas alam, dan batu bara diprediksi masih terus mendominasi penggunaan energi global hingga 2050, bahkan lebih. McKinsey & Company dalam Global Energy Perspective 2025 menyebut salah satu faktor penyebab penggunaan energi fosil masih tinggi adalah lonjakan permintaan listrik yang melebihi jumlah peralihan ke energi terbarukan.
Peningkatan permintaan listrik ini diperkirakan mencapai 20-40% dari sektor industri dan bangunan pada 2050.
Selain itu, pusat data di Amerika Utara juga berperan besar dalam peningkatan ini. Permintaan listrik untuk pusat data di Amerika Serikat diprediksi tumbuh hampir 25% tiap tahun hingga 2030.
Secara global, permintaan listrik dari pusat data akan tumbuh dengan rata-rata 17% per tahun dari 2022 hingga 2030. Terutama di negara anggota Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD).
Ditambah dengan kinerja ekonomi regional dan global dari bahan bakar fosil, “Hal ini membuat 55% tumpukan energi global akan berasal dari energi fosil pada 2050,” ujar Partner McKinsey, Diego Hernandez Diaz, dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).
Energi Fosil Diprediksi Menyumbang hingga 55% Konsumsi Energi Global pada 2050
Bahan bakar fosil dapat menyumbang sekitar 41-55% dari total konsumsi energi global pada 2050. Angkanya turun dari 64% saat ini, namun lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
Penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik diperkirakan tumbuh secara signifikan. Penggunaan batu bara juga mengalami peningkatan pada level yang lebih tinggi. Diego menambahkan, permintaan minyak juga masih belum mencapai puncak pada 2030-an.
Situasi ini menimbulkan tantangan besar dalam mencapai target iklim nol bersih global.
Bahan bakar alternatif kemungkinan tidak akan diadopsi secara luas sebelum 2040. Kecuali, jika skema ini diwajibkan. Tetapi, energi terbarukan memiliki potensi untuk menyediakan 61-67% energi global pada 2050.
