Laporan FAO: Meski Deforestasi Melambat, Hutan Global Tetap Terancam

Ajeng Dwita Ayuningtyas
22 Oktober 2025, 13:05
deforestasi, hutan, FAO
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/agr
Foto udara satgas karhutla Dinas Kehutanan Sumbar dan BPBD Limapuluh Kota berusaha memadamkan api di hutan Nagari Taram, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (24//7/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Laporan Global Forest Resources Assessment (FRA) 2025 dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan, laju deforestasi hutan di seluruh dunia melambat dalam satu dekade terakhir. Tetapi, laju deforestasi 10,9 juta hektare per tahun saat ini, masih menandakan tekanan besar pada ekosistem hutan.

Data terbaru, hutan masih menutupi sekitar 4,14 miliar hektare atau sekitar 32% dari total daratan dunia. Dengan luasan ini, stok karbon juga diperkirakan meningkat, mencapai 714 gigaton.

Lebih dari separuh kawasan hutan tersebut telah terkelola dalam rencana pengelolaan jangka panjang. Lalu, sekitar 20% atau 813 juta hektare di antaranya masuk kawasan lindung yang ditetapkan secara hukum.

Laju deforestasi pun menurun dari 17,6 juta hektare pada 1990-2000, menjadi 10,9 juta hektare pada 2015-2025. Akan tetapi, laporan tersebut menyatakan angka ini masih tergolong tinggi.

Apalagi, laju perluasan hutan baru juga menurun. Dari 9,88 juta hektare pada 2000-2015, menjadi 6,78 juta hektare pada 2015-2025.

Ini mengingat peran penting hutan untuk ketahanan pangan, sebagai mata pencaharian masyarakat lokal, dan penyediaan bahan baku serta energi terbarukan. 

“Hutan merupakan habitat bagi sebagian besar keanekaragaman hayati dunia, membantu mengatur siklus karbon dan hidrologi global, serta mengurangi risiko dan dampak kekeringan, degradasi lahan, erosi tanah, tanah longsor, dan banjir,” kata Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, dalam kata pengantar laporan, dikutip Rabu (22/10).

Ancaman Kerusakan Hutan

Laporan tersebut juga memperlihatkan, kebakaran lahan mencapai rata-rata 261 juta hektare setiap tahunnya. Hampir setengahnya berupa hutan. 

Tak hanya itu, pada 2020 lalu, serangga, penyakit, dan cuaca buruk merusak sekitar 41 juta hektare hutan. Terutama di wilayah dengan iklim sedang dan dingin. 

Qu menggarisbawahi visi FAO untuk menciptakan hasil produksi lebih baik, nutrisi lebih baik, lingkungan lebih baik, dan kehidupan lebih baik tanpa meninggalkan siapapun, khususnya dalam pengelolaan hutan. 

“Namun, dunia belum berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target-target penting kehutanan global,” tambahnya.

Oleh karena itu, melalui laporan yang terbit tiap lima tahun ini, Qu berharap dapat mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan kerja dan upaya kolektif mencapai pengelolaan hutan berkelanjutan. 

Dari total hutan yang telah disebutkan, sebanyak 482 juta hektar ditujukan untuk konservasi keanekaragaman hayati. Kemudian, 386 juta hektare untuk perlindungan tanah dan air, serta 221 juta hektare untuk layanan sosial.

Sementara, 1,2 miliar hektare atau 29% dari total hutan, dikelola untuk tujuan produksi. Sebanyak 616 juta hektare lainnya digunakan untuk berbagai penggunaan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...