Koalisi Pasar Karbon Gaet 18 Negara Jadi Anggota di COP30
Koalisi Terbuka untuk Pasar Karbon yang Patuh (Open Coalition on Compliance Carbon Market) yang diluncurkan di Konferensi Tingkat Tinggi Iklim COP30 mendapatkan dukungan dari 18 negara. Inisiatif ini bertujuan menetapkan standar bersama dan menghubungkan berbagai sistem perdagangan kredit karbon guna menghasilkan likuiditas, prediktabilitas, dan transparansi bagi sektor ini.
Inisiatif yang diluncurkan pada Leaders Summit 7 November lalu dipertegas dalam dialog para pemimpin dunia pada Sabtu, 15 November 2025.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan dari beberapa negara menegaskan kembali dukungan mereka terhadap Koalisi Terbuka untuk Pasar Karbon yang Patuh. Inisiatif ini kini mencakup Brasil, Tiongkok, Uni Eropa, Inggris, Kanada, Chili, Jerman, Meksiko, Armenia, Zambia, Prancis, Rwanda, Andorra, Guinea, Selandia Baru, Monako, Singapura, dan Norwegia.
“Inisiatif ini didasarkan pada pengakuan pasar karbon yang patuh memainkan peran sentral dalam mempercepat dekarbonisasi ekonomi kita dan dalam memajukan implementasi Perjanjian Paris,” ujar Maurício Lyrio, Sekretaris Iklim dan Lingkungan di Kementerian Luar Negeri Brasil, seperti dikutip COP30.br.
“Tujuan kami adalah untuk memanfaatkan pasar karbon yang patuh sambil menjaga integritas lingkungan dan memastikan transisi yang adil bagi semua,” ujarnya.
Komitmen internasional ini sedang dikembangkan di bawah kepemimpinan Kementerian Keuangan Brasil, yang diwakili oleh Wakil Sekretaris Eksekutif Rafael Dubeux. "Kami telah membahas cara beralih dari bahan bakar fosil secara terstruktur, tertib, dan adil. Pasar karbon yang teregulasi merupakan salah satu jalur penting untuk mencapai tujuan ini," ujar Dubeux.
Ia mengatakan koalisi ini akan memungkinkan negara-negara untuk berkolaborasi dalam mendefinisikan praktik terbaik untuk Pemantauan, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV), menetapkan standar akuntansi bersama, dan memastikan integritas mekanisme kompensasi. Regulasi sektor ini merupakan salah satu cara paling efektif untuk mendorong dekarbonisasi.
"Ini sungguh momen bersejarah untuk mempercepat upaya global menuju dekarbonisasi, kesetaraan, dan kemakmuran," ujar Dubeux.
Ekspansi Pasar Karbon
Komisaris Uni Eropa untuk Energi dan Aksi Iklim, Dan Jørgensen, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif ini dan menyatakan niatnya untuk bekerja sama dengan Brasil dan negara-negara lain guna memastikan penetapan harga karbon yang efektif.
“Penggunaan kredit berkualitas tinggi harus selaras dengan standar dan prinsip yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Koalisi ini dapat menetapkan tolok ukur untuk sepenuhnya mengintegrasikan standar yang relevan ke dalam target nasional final dan perancangan pasar karbon domestik,” kata Jørgensen.
Norwegia secara resmi bergabung dengan komitmen yang bersifat sukarela ini. Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, Andreas Bjelland Eriksen, menekankan Norwegia berpartisipasi dalam sistem perdagangan emisi, pasar karbon, dan Perjanjian Paris.
Semuanya merupakan instrumen kunci untuk mengurangi emisi. Menurutnya, koalisi memperkuat integritas lingkungan dengan berbagi pengalaman, memperluas pengetahuan tentang metodologi MRV dan penghitungan karbon, serta memastikan dampak iklim yang efektif.
