Lebih dari 80 Negara Gabung Seruan Hapus Bahan Bakar Fosil di COP30

Ajeng Dwita Ayuningtyas
19 November 2025, 18:47
negara, Brasil, COP30
COP30 Brasil Amazonia/Hermes Caruzo
Parade kapal People Summit diikuti lebih dari 200 kapal yang berlayar menuju Teluk Guajara pada Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Kota Belem, Brasil pada 12 November 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lebih dari 80 negara telah tergabung untuk serukan peta jalan penghapusan bahan bakar fosil, dalam intervensi dramatis atas negosiasi yang macet di Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Brasil. Negara-negara dari Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Pasifik bergabung dengan negara anggota Uni Eropa dan Inggris untuk menyampaikan permohonan agar “transisi dari bahan bakar fosil” jadi hasil utama perundingan.

Upaya ini tidak mudah, karena muncul penentangan keras dari negara-negara penghasil minyak dan beberapa negara ekonomi besar lainnya.

“Mari kita dukung gagasan peta jalan bahan bakar fosil. Mari kita bekerja sama dan menjadikannya sebuah rencana,” kata Utusan Iklim Kepulauan Marshall, Tina Stege, di tengah-tengah menteri dari 20 negara, seperti dikutip The Guardian, pada Rabu (19/11).

Para pegiat lingkungan memuji intervensi tersebut. Menurut Wakil Direktur Program Greenpeace International, Jasper Inventor, hal ini dapat menjadi titik balik di COP30

“Ini sinyal kuat dari negara-negara di belahan bumi selatan dan utara tentang perlunya menghapus bahan bakar fosil secara bertahap,” ujarnya. 

Hidupkan Kembali Komitmen yang Mati Suri

Komitmen untuk "beralih dari bahan bakar fosil" merupakan hasil utama COP28 , yang diselenggarakan di Dubai pada 2023. 

Namun, beberapa negara, yang dipimpin oleh Arab Saudi, mulai mencoba mengurai resolusi tersebut. Pada perundingan iklim di Baku tahun lalu, upaya untuk menindaklanjuti dan menyempurnakan resolusi tersebut gagal.

Tahun ini, tuan rumah Brasil menolak untuk memasukkan pembahasan mengenai “transisi dari bahan bakar fosil” ke dalam agenda resmi konferensi.

Bahkan, hal tersebut dikecualikan dari "presidency consultations" yang telah berlangsung di balik layar untuk membahas empat isu paling rumit dalam agenda. Keempat isu itu adalah keuangan, perdagangan, transparansi, dan Nationally Determined Contribution (NDC) yang dinilai terlalu lemah untuk membatasi kenaikan suhu Bumi hingga 1,5 derajat Celsius.

Namun, sejumlah negara yang mendukung penghapusan bertahap, memutuskan untuk mengambil sikap. Mereka yakin tidak akan ada respons terhadap NDC dan tidak ada harapan untuk mempertahankan target 1,5 derajat Celsius tanpa mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Ini adalah koalisi global, yang menyatukan negara-negara di belahan bumi utara dan selatan, dan menyatakan dengan satu suara: ini adalah isu yang tidak bisa disembunyikan. Kita semua menyatakan dengan sangat jelas bahwa isu ini harus menjadi inti dari konferensi ini,” jelas Menteri Energi Inggris, Ed Miliband, pada Selasa (18/11).

Utusan Iklim Inggris Rachel Kyte, mengatakan peta jalan diperlukan untuk memajukan resolusi yang dibuat di COP28 dan mewujudkannya.

Peta Jalan Masuk Draf Teks Keputusan KTT

Pada Selasa (18/11) pagi, Presidensi Brasil di COP30 mengajukan rancangan teks untuk keputusan KTT yang mengejutkan banyak pihak. Rancangan teks ini mencantumkan peta jalan menuju penghapusan bahan bakar fosil sebagai salah satu opsi. Namun, bagi beberapa negara, rancangan ini terlalu lemah.

“Ini tidak cukup kuat, perlu lebih berorientasi pada tindakan, perlu target yang terukur, perlu ada elemen yang menunjukkan seperti apa peta jalan ini nantinya,” kata Menteri Perubahan Iklim Vanuatu, Ralph Regenvanu. 

Para pendukung peta jalan ini menekankan bahwa peta jalan ini tidak mengharuskan semua negara mengikuti jalur yang sama, tapi akan mengakui bahwa negara-negara menghadapi masalah yang berbeda. 

Beberapa memiliki cadangan bahan bakar fosil yang besar, sementara yang lain bergantung pada impor bahan bakar fosil. Beberapa negara ingin menggunakan cadangan mereka untuk pembangunan dan banyak negara berkembang akan membutuhkan bantuan keuangan dan akses ke teknologi rendah karbon jika mereka ingin mengambil langkah menjauhi bahan bakar fosil.

"Ini bukan beban. Setiap negara memiliki transisi yang harus dilalui. Transisi ini sangat berbeda, tergantung pada bauran energi dan faktor-faktor lainnya," sambung Kyte.

Draf Teks Akan Direvisi

Brasil diperkirakan akan merevisi teks tersebut setelah masukan dan konsultasi dengan semua kelompok negara dalam perundingan COP30. Amerika Serikat (AS) adalah satu-satunya negara besar yang absen dari Belém.

Kemungkinan besar akan ada penentangan keras dari Arab Saudi dan mungkin Rusia, Bolivia, dan negara-negara penghasil minyak lainnya.

Pihak yang mendukung penghapusan bertahap percaya mereka memiliki mayoritas negara di COP, jika para pendukung dan negara netral mereka diikutsertakan. Namun, karena prosesnya berjalan berdasarkan konsensus, bahkan segelintir penentang pun dapat menghambat kemajuan.

Menurut laporan The Guardian, Pemerintah Brazil memiliki konflik internal mengenai transisi dari bahan bakar fosil.

Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, beberapa kali menyebutkan perlunya “menjauhi ketergantungan pada bahan bakar fosil” pada pertemuan puncak para pemimpin dunia sebelum dan saat COP30. Namun, ada beberapa bagian dari pemerintahannya yang terpaku pada perluasan pengeboran minyak dan gas di Brasil.

Namun, Menteri Lingkungan Hidup Brasil Marina Silva, mengatakan peta jalan tersebut merupakan “jawaban etis” terhadap krisis iklim dan menyerukan semua negara untuk “memiliki keberanian” untuk mempertimbangkannya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...