Dari Tanah Gersang ke Kampung Hijau, Napas Baru di Bekas Tambang Timah Bangka

Image title
24 November 2025, 16:28
tambang, timah, rehabilitasi
Katadata/Nuzulia Nur Rahmah
Bunga, nama beruang madu yang merupakan salah satu hewan yang direhabilitasi oleh penangkaran di Air Jangkang, Pulau Bangka.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pagi itu, matahari baru saja merekah di ufuk timur Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Embun masih bergelayut di ujung daun, sementara angin membawa aroma tanah lembap dari bekas tambang yang kini sudah berubah rupa. 

Di antara hijaunya rumput yang mulai menutup jejak galian lama, seorang lelaki berjalan perlahan dengan langkah yang sudah berpuluh tahun akrab dengan tanah Bangka. Laki-laki berusia 62 tahun itu bernama Mahmud.

Keriput di dahinya menunjukkan seberapa lama ia telah hadir di tanah penuh hasil berkah dari perut bumi. Pipi yang mulai mengendur menyimpan kisah kerja keras dan sabar. Bajunya lusuh, penuh noda tanah merah di bagian bawah, dan sepasang sepatu boots yang sudah tak lagi berkilat. 

Setiap pagi, Mahmud menapaki jalan yang sama menuju lahan seluas 36 hektare. Dahulu, tempat ini adalah luka di tanah alias bekas tambang timah yang gersang, berlubang, dan mati. 

Berkat kerja keras Mahmud dan rekan-rekannya, bekas tambang itu bertransformasi menjadi ruang kehidupan baru: sebuah kampung yang tumbuh dari puing-puing masa lalu. Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, karya kolaboratif PT Timah Tbk melalui anak usahanya, PT Timah Agro Manunggal (TAM), dengan masyarakat setempat.

Begitu masuk, pengunjung bisa langsung mendapati rumah-rumah panggung khas Melayu berdiri di tepi danau yang airnya kehijauan. Di sekitarnya, tumbuh berbagai jenis tanaman, ada pohon cemara, ketapang, dan durian. Ada juga sawi, bayam, hingga cabai merah. Sebagian lahan bahkan dijadikan tempat penampungan satwa sebelum dilepas kembali ke alam.

“Dulu waktu saya datang tahun 2016, tanahnya gersang betul. Hanya alang-alang tumbuh, segini tingginya,” kata Mahmud sambil mengukur tinggi rumput dengan tangannya, ia berbicara dengan logat Melayu yang kental kepada Katadata.co.id, Jumat (17/10). 

“Pertama kali, saya disuruh tanam sayur. Saya bawa bibit sendiri dari rumah, ada coba kangkung dua siung. Eh, subur. Dari situ, ibu-ibu beli bibit lain kaya bayam, sawi, cabai, jagung. Semua tumbuh," tuturnya.

Ada yang menarik dari perjalanan kisah Mahmud. Dahulu, ia adalah buruh tambang ilegal, "Ikut orang," kata Mahmud. Menggali tanah, mencuci tailing timah, dan hidup dari upah harian yang tak seberapa. 

Kini, ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang. Setiap hari, dari pukul setengah delapan pagi hingga sore, Mahmud merapikan rumput, membersihkan kebun, dan menjaga keasrian tempat yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

“Sekarang sudah per bulan gajinya. Tiga juta lebih, ya, UMR (Upah Minimum Regional) itu,” kata laki-laki yang tinggal di Desa Jurug ini. Dari hasil ini ia mengaku telah berhasil menghidupi keluarga kecilnya. Mahmud telah memiliki tiga orang cucu yang lucu dan menggemaskan.  

Rehabilitasi lahan bekas tambang
Rehabilitasi lahan bekas tambang (Katadata/Nuzulia Nur Rahmah)

Sulitnya Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Dalam kunjungan ke Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, Katadata.co.id berkesempatan mengunjungi dan melihat langsung hasil reklamasi dari lahan bekas tambang timah milik PT Timah, Tbk. Lokasinya terletak di Jalan Esa Unggul, Riding Panjang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Begitu mobil memasuki area reklamasi, kami langsung disambut dengan jejeran pohon yang sudah tumbuh tinggi, begitu juga rumput yang menghampar luas meski sesekali ditemukan tanah merah dan kering.

Petugas di sana bilang, sebelumnya lahan ini merupakan area bekas tambang yang gersang dan miskin unsur hara sehingga sulit ditanami tumbuhan.

"Tahun 2010 setelah penambangan selesai akhirnya pada tahun 2016 itu dilakukan penataan dan pemetaan di awal, kemudian dilakukan penataan lahan untuk ditanami atau direklamasi. Nah, pada 2017 sampai 2019 itu mulai dilakukan penanaman secara bertahap. Jadi penanaman pohon-pohon cemara dan lain-lain seperti yang tadi dilihat," kata sang petugas.

Di permukaan, tanah tampak merah kecokelatan, kering, dan keras. Namun, saat lapisan itu digali sedikit lebih dalam, warna tanah berubah menjadi putih pucat menyerupai susu. Saat disentuh, teksturnya seperti lumpur yang sudah mengeras namun halus. Kontras yang mencolok ini menandakan perubahan besar pada struktur tanah akibat lamanya aktivitas penambangan.

Petugas menjelaskan, tanah seperti ini miskin unsur hara dan cenderung asam. Lapisan bawah ini membuat lahan bekas tambang sulit dipulihkan secara alami. Vegetasi hanya tumbuh jarang-jarang, dan sebagian besar permukaan tanah menjadi tandus. 

Untuk mengembalikannya, dibutuhkan upaya rehabilitasi jangka panjang, mulai dari menambahkan bahan organik, menanam tanaman penutup tanah, hingga menumbuhkan kembali vegetasi yang tahan di kondisi ekstrem seperti akasia atau sengon.

"Karena kondisi tanah yang memang sangat tidak subur. Jadi terutama kita ingin menanam kembali  di lokasi yang sudah kita mencampur media tanah. Proses ini dari mulai lahan kita tata sampai penanaman, dan perawatan. Ini kurang lebih tiga tahun penanaman baru akhirnya tumbuh," ujarnya.

Timah batangan siap dijual
Timah batangan siap dijual (Katadata/Nuzulia Nur Rahmah)

Dulu Gersang dan Mati, Kini Hijau dan Jadi Pusat Edukasi

Proses memang tak mengkhianati hasil. Upaya Timah Agro Manunggal dan masyarakat setempat yang bertahun-tahun memulai menghijaukan kembali tanah, kini telah tertanam 2.400 jenis tanaman seperti sawo, pisang, cempedak, aneka jambu, serta aneka sayur-mayur, seperti sawi, seledri, hingga kangkung.

"Tanaman ini semua dipakaikan pupuk kompos dari kotoran sapi dari peternakan kita. Jadi ada ternak sapi juga, kotorannya dipakai buat pupuk tanaman tadi," ujar petugas itu.

Saat ditanya mengenai pilihan tumbuhan yang ditanam di sini, petugas menjelaskan, tidak sembarang tumbuhan bisa ditanam di lahan bekas tambang. Timah Agro Manunggal membutuhkan ekspolorasi untuk mengetahui mana tumbuhan yang bisa ditanam, memiliki pertahanan kuat serta bermanfaat untuk warga sekitar.

"Lahan eks tambang itu memang kondisinya sangat-sangat kurang. Jadi, dalam eksplorasi itu kita memilih pohon-pohon tertentu, seperti biasanya cemara kemudian sengon. Kalau buah, itu biasanya kita menggunakan jambu mete. Nah itu yang sudah terbukti kita pernah tanam kita rawat, dan tentunya bagus," tuturnya.

Selain tumbuhan buah dan sayuran juga terdapat tumbuhan bunga, bioflok, serta hidroponik. Pengunjung yang datang silih berganti bukan sekadar untuk bersantai, tapi ada juga untuk belajar. 

Sejumlah pelajar sering datang guna mempelajari teknik budidaya tanaman dan cara mereklamasi lahan bekas tambang. Kami bahkan sempat bertemu beberapa mahasiswa yang datang untuk melakukan program magang dan penelitian.

Selain untuk lingkungan, proses pembuatan Kampoeng Reklamasi Air Jangkang telah menggunakan banyak tenaga lokal atau masyarakat setempat. Kebanyakan di antaranya direkrut untuk pembuatan lubang, penanaman hingga perawatan tanaman seperti halnya Mahmud. Hingga akhirnya pemerintah menyatakan bahwa proses reklamasi telah berhasil 100%.

"Pada tahun 2021 itu ada penilaian dari Kementerian ESDM dan dinyatakan bahwa reklamasi ini sudah memiliki keberhasilan reklamasi yang 100%. Jadi sudah bisa dibuatkan suatu wilayah yang memiliki konsep agro-educarism," ujarnya.

Reklamasi Bekas Tambang Cegah Ancaman Lingkungan dan Kesehatan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengatakan kepada Katadata bahwa reklamasi pada lahan bekas tambang penting dilakukan untuk mencegah dampak lingkungan, kesehatan, dan sosial ekonomi yang ditimbulkan akibat aktivitas pertambangan. 

Kepala Divisi Kampanye WALHI, Rere Christanto, mengatakan tanpa reklamasi, galian tambang dapat menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat sekitar.

“Ya, secara umum, galian bekas tambang itu ada beberapa problem yang masih tersisa ketika dia tidak diselesaikan. Baik melalui reklamasi maupun kegiatan pasca tambang. Ada ancaman fisiknya dari lubang-lubangnya itu sendiri, kemudian ada ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan dari kontaminasi air maupun tanah, maupun dampak di ekonomi masyarakat,” ujar Rere, Selasa (21/10).

Menurutnya, ancaman fisik muncul karena lubang-lubang bekas tambang dapat menyebabkan ketidakstabilan tanah dan potensi longsor. Selain itu, lubang yang dibiarkan terbuka juga berisiko menjadi perangkap bagi manusia maupun hewan.

Rere mengatakan, aktivitas pertambangan yang membongkar lapisan tanah atas turut mengekspos lapisan bawah yang mengandung berbagai logam berat berbahaya. “Paparan logam berat seperti merkuri, kromium, kadmium, dan barium bisa mencemari air dan udara di sekitar wilayah tambang,” ujarnya.

Selain berdampak pada lingkungan dan kesehatan, Rere menilai kerusakan akibat tambang juga menurunkan produktivitas ekonomi masyarakat. “Tanah yang terkontaminasi membuat lahan pertanian dan perikanan rusak, sehingga mengganggu sumber penghidupan masyarakat,” katanya.

WALHI menilai keberhasilan reklamasi dapat diukur dari kemampuan mengembalikan fungsi ekosistem seperti semula, bukan sekadar dari banyaknya pohon yang ditanam. “Fungsi ekosistem harus hidup kembali sebagai satu kesatuan. Kalau sudah rusak, memang sulit dipulihkan, tapi bukan tidak mungkin,” ujar Rere.

Sebagai langkah perbaikan, WALHI merekomendasikan pemerintah untuk melakukan moratorium izin baru bagi industri ekstraktif serta memperkuat pengawasan terhadap perusahaan tambang yang masih beroperasi. 

“Korporasi yang sudah menikmati keuntungan dari aktivitas tambang harus bertanggung jawab terhadap reklamasi dan pemulihan lingkungan,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...