H&M, Zara, dan Patagonia Gunakan Benang Daur Ulang dari Startup Circ
Sebuah perusahaan rintisan (startup) yang berbasis di Virginia, Amerika Serikat (AS) berhasil memasarkan benang hasil daur ulang tekstil kepada sejumlah peritel fesyen global, seperti H&M, Zara, Patagonia, dan Allbirds.
Perusahaan yang bernama Circ ini telah mengumpulkan pendanaan US$ 100 juta (Rp 1,67 triliun, kurs Rp 16.670/US$) dari Patagonia, Temasek, Taranis, Marubeni, Inditex, dan Breakthrough Energy Ventures.
Fesyen cepat (fast fashion) dianggap sebagai pelanggar lingkungan yang serius, karena membutuhkan konsumsi air yang sangat besar, dan menghasilkan emisi karbon serta polusi yang tinggi. Produksi fesyen cepat juga menyebabkan lonjakan limbah mikroplastik dan tekstil.
Salah satu dampaknya adalah maraknya penjualan barang bekas. Namun, mendaur ulang pakaian lama menjadi barang baru menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar.
Menurut berbagai sumber, industri mode menyumbang sekitar 4% hingga 10% emisi gas rumah kaca global. Namun, kurang dari 1% pakaian didaur ulang menjadi pakaian baru. Hal ini disebabkan sebagian besar kain saat ini merupakan campuran dan perlu dipecah menjadi serat aslinya agar dapat dibuat ulang.
Mengubah Mode Menjadi Ekonomi Sirkular
Circ berupaya memperbaiki masalah ini, dengan tujuan mengubah mode menjadi ekonomi sirkular. Perusahaan yang berdiri pada 2011 ini mengembangkan teknologi yang memisahkan bahan polikatun menjadi komponen aslinya, dan meregenerasinya menjadi bahan baru berkualitas murni.
"Ini proses kimia, kami memecah poliester menjadi blok-blok penyusunnya, memisahkannya dari katun, dan mengembalikannya ke awal rantai pasokan untuk dibuat ulang menjadi pakaian baru,kata CEO Circ, Peter Majeranowski, dalam wawancara dengan CNBC, Minggu (23/11).
Poliester dan katun menguasai sekitar 77% pasar tekstil global. Teknologi hidrotermal Circ dapat mendaur ulang setiap serat, serta rasio campuran keduanya, yang dikenal sebagai campuran polikatun.
"Kami bekerja dengan bahan yang tidak dapat didaur ulang, tidak dapat diperbaiki, atau dijual kembali," kata Majeranowski.
Bahan-bahan yang biasanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar itu bisa diolah kembali oleh Circ menjadi benang.
Circ mendapatkan pakaian bekas dari berbagai sumber, baik yang dibeli maupun disumbangkan. Setelah memecah serat, mereka kemudian menjualnya kembali ke rantai pasokan pakaian kepada pemintal benang, perusahaan pewarna, dan produsen kain. Allbirds, Zara, dan H&M menggunakan tekstil daur ulang Circ di beberapa produk mereka.
Patagonia, produsen yang dikenal memproduksi pakaian untuk aktivitas naik gunung dan kegiatan luar ruang, mengatakan harga produk hasil daur ulang memang sedikit lebih mahal. Namun, ini merupakan pilihan yang menarik bagi merek-merek yang peduli lingkungan seperti Patagonia, yang juga merupakan investor di Circ.
“Mengejar bahan baku yang sangat penting, seperti campuran katun poliester…selalu menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan kami,” kata Matthew Dwyer, Wakil Presiden Jejak Produk Global di Patagonia, seperti dikutip CNBC.
Soal harga yang lebih tinggi, Dwyer mengatakan hal itu wajar saja terjadi pada inovasi apa pun yang perlu ditingkatkan skalanya ke pasar besar.
“Bagi kami, ini bukan hanya tentang memasuki pasar, tetapi tentang memastikan mitra kami siap untuk meningkatkan skala dari sana, karena tidak ada gunanya dan tidak ada bisnis yang menyelamatkan planet ini jika Anda hanya membangun mobil konsep,” ujarnya.
Startup ini berkantor pusat di Danville, Virginia, yang dulunya merupakan pusat pabrik tekstil terbesar di AS. Circ telah berekspansi secara global, dengan pabrik daur ulang tekstil-ke-tekstil berskala industri pertamanya di Prancis.
