Kemenhut Jelaskan Kronologi Kematian Badak Jawa Musofa, Bukan Karena Translokasi

Ajeng Dwita Ayuningtyas
28 November 2025, 18:21
Kemenhut, badak Jawa, badak Musofa
Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas
Profesor Patologi IPB Bambang Pontjo Priosoeryanto, tim dokter hewan dalam upaya translokasi, menjelaskan kronologi kematian badak Jawa bernama Musofa di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badak Jawa bernama Musofa mati pada 7 November lalu, usai ditranslokasi dari Taman Nasional Ujung Kulon ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) dua hari sebelumnya. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan kematian Musofa bukan karena proses translokasi. 

“Kematian badak diduga akibat kelemahan umum yang bersifat kronis, yang terjadi jauh sebelum penangkapan dan translokasi dilakukan,” kata Profesor Patologi IPB Bambang Pontjo Priosoeryanto, tim dokter hewan dalam upaya translokasi, saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/11).

Bambang menjelaskan, Musofa mati akibat kondisi hipoproteinemia karena kekurusan. Tubuhnya sangat kurus akibat infestasi berat dari cacing parasit di saluran cerna dan otot. Kondisi tersebut menyebabkan timbunan cairan di otak, gangguan koordinasi, serta penurunan kadar oksigen pada paru-paru. 

Menurut Bambang, kematian Musofa tidak ada kaitannya dengan perlakuan sedasi atau standing anestesi yang dilakukan saat translokasi. 

Kronologi Kematian Badak Musofa

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan rencana translokasi Badak Jawa telah lama disiapkan. Ini dilakukan untuk menjaga populasi satwa terancam punah ini. 

Prosesnya dimulai saat Musofa masuk ke pitfall trap pada 3 November. Usai masuk ke perangkap, Musofa dipindahkan ke dalam kandang angkut sembari terus dipantau tim dokter hewan.

Musofa baru dipindahkan ke JRSCA pada 5 November karena menunggu cuaca dan ombak yang aman untuk dilalui. Baru pada pukul 20.00 WIB, Musofa tiba di area translokasi.

“Tim dokter sudah melakukan pemeriksaan fisik dari badak, tidak ada luka, tidak ada tulang yang patah dan sebagainya,” kata Satyawan.

Pada 7 November, Musofa terbaring lemah. Upaya penyelamatan dilakukan tim dokter hewan, namun Musofa dinyatakan mati pada pukul 16.00 WIB di hari yang sama. 

Usia dan Kondisi Kesehatan yang Lemah

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tim kedokteran hewan menduga usia Musofa sudah lebih dari 45 tahun. Ini diketahui dari gigi-giginya yang sudah aus, bahkan melukai rongga mulutnya. Hasil pemeriksaan di awal sebelum Musofa ditranslokasi, tim dokter memperkirakan usianya baru sekitar 30-an. 

Tim dokter lalu menyarankan, sebelum translokasi, usia satwa harus diketahui untuk memastikan kualitas reproduksi satwa. Berdasarkan pengalaman konservasi di Way Kambas, badak berusia 45 tahun masih bereproduksi aktif, namun kondisi kesehatan Musofa yang lemah bisa memengaruhinya. 

Kemudian, melihat kondisi infestasi cacing yang parah pada Musofa, Bambang menilai upaya pemberian obat cacing perlu dilakukan.

“Apabila dimungkinkan, dapat dilakukan pemberian obat cacing secara non-invasif seperti menggunakan pakan umpan yang diisi obat cacing,” ujar Bambang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...