KLH akan Panggil 8 Entitas yang Diduga Sebabkan Banjir di DAS Batang Toru
Terpaan Siklon Tropis Senyar berdampak besar pada curah hujan yang memicu banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Selain faktor cuaca ekstrem, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai ada kontribusi aktivitas industri yang memperparah bencana hidrometeorologis di wilayah tersebut.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, salah satu titik yang paling terdampak adalah daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatra Utara.
“Saya mencatat ada delapan entitas di sana. Mulai dari pengusaha hutan tanaman industri, pengusaha tambang emas, kemudian perkebunan sawit,” kata Hanif, saat ditemui di Jakarta pada Senin (1/12).
Kondisi tersebut menambah risiko bencana di DAS Batang Toru, mengingat posisinya yang berada di lereng lembah.
Delapan entitas tersebut akan dipanggil pekan depan, untuk menjelaskan aktivitas apa saja yang berisiko pada lingkungan, termasuk mendalami dari mana potongan-potongan kayu yang terbawa banjir itu berasal.
Hanif mengatakan KLH akan mengevaluasi total semua perizinan lingkungan yang ada di DAS Batang Toru. “Kondisi siklon tropis ini sebagai baseline curah hujan, artinya semua kajian lingkungan harus di atas itu kemampuannya,” ujar Hanif.
Dari hasil evaluasi tersebut, pemerintah akan menentukan langkah berikutnya, baik meminta perbaikan persetujuan lingkungan atau menghentikan operasional perusahaan-perusahaan yang melanggar.
Faktor Kelalaian
Hanif mengakui adanya ketidakmampuan pemerintah mendeteksi potensi bencana akibat perubahan iklim. Terlebih, kemunculan Siklon Tropis Senyar ini diluar kendali dan kemampuan Indonesia.
Ke depan, KLH akan mengupayakan langkah adaptasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Di samping itu, upaya mitigasi dilakukan untuk menjamin kejadian serupa tak terulang.
