KLH Periksa 4 Perusahaan yang Diduga Perparah Banjir di DAS Batang Toru

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 Desember 2025, 12:03
Tim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) saat melakukan verifikasi lapangan di daerah aliran sungai (DAS) Garoga, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, pada Sabtu (6/12).
Dok. KLH
Tim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) saat melakukan verifikasi lapangan di daerah aliran sungai (DAS) Garoga, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, pada Sabtu (6/12).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memanggil dan memeriksa empat perusahaan yang memiliki persetujuan lingkungan di ekosistem daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, di Jakarta, pada Senin (8/12). 

Pemeriksaan dilakukan setelah KLH menemukan indikasi aktivitas perusahaan yang memperparah dampak bencana banjir dan longsor di wilayah tersebut. 

Empat perusahaan yang dimaksud adalah pengelola tambang emas, pengelola pembangkit listrik tenaga air, pengelola perkebunan sawit, dan satu perusahaan lagi yang belum dikonfirmasi KLH/BPLH.

“Di antaranya yang akan kita tempuh adalah dengan audit lingkungan, kemudian persengketaan lingkungan hidup, dan kemungkinan pidana,” kata Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, saat konferensi pers di Jakarta, Senin (8/12). 

Operasional keempat perusahaan sudah dihentikan sementara oleh KLH/BPLH. Empat perusahaan lainnya juga akan dipanggil dan diperiksa besok, atas indikasi serupa. 

Pemeriksaan di DAS Lain

Hanif menjelaskan, banjir di Sumatra Utara terjadi pada lima DAS, yaitu Batang Toru, Garoga, Badili, Aek Pandan, dan Sibuluan. 

Di DAS Garoga, KLH/BPLH menemukan aktivitas perkebunan kelapa sawit milik entitas swasta, yang kini juga tengah didalami. Namun Hanif menyebut, banjir di lokasi ini lebih dipengaruhi hancurnya hulu DAS karena posisi terjal dan diguyur hujan deras. 

“Ada sedikit kayu yang ada potongan senso (gergaji), tetapi tidak terlalu banyak,” kata Hanif.

Di DAS Badili, Hanif dan tim tidak melihat langsung adanya aktivitas besar manusia di hulu. Hanif lalu memperkirakan, banjir dan longsor disebabkan hujan yang sangat kuat ditambah struktur tanah yang tak dapat menahannya. Ini serupa dengan kondisi DAS Sibuluan yang memiliki dinding hulu terlalu curam.

Di Aek Pandan, kata Hanif, posisi kota atau pemukiman yang terlalu dekat dengan dinding hulu hingga memperparah kerusakan lingkungan. 

“Sebagian lanskap hutan yang telah digunakan sebagai pertanian lahan kering dan kegiatan pemukiman ini berbahaya sekali,” ujar Hanif.

KLH akan meninjau ulang semua persetujuan lingkungan dengan skenario variabel curah hujan 250-300 mm selama dua hingga tiga hari. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...