Arktik Pecah Rekor Suhu Terpanas dan Penyusutan Es dalam Setahun

Ajeng Dwita Ayuningtyas
17 Desember 2025, 10:55
Arktik, perubahan iklim, pemanasan global
Vecteezy.com/Anupong Intawong
Arktik mengalami tahun dengan suhu terpanas dan penyusutan es laut sekaligus pada tahun 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Arktik mengalami tahun dengan suhu terpanas dan penyusutan es laut sekaligus pada tahun 2025. Peningkatan curah hujan akibat pergeseran garis lintang utara ditambah perubahan iklim, menyebabkan berkurangnya tutupan es Arktik.

Menurut Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat, dari Oktober 2024 hingga September 2025, suhu di seluruh wilayah Arktik merupakan yang terpanas dalam 125 tahun pencatatan modern. Bahkan, sepuluh tahun terakhir menjadi dekade terpanas yang pernah tercatat di Arktik.

“Tahun ini merupakan tahun terpanas dan memiliki curah hujan terbanyak yang pernah tercatat. Melihat kedua hal tersebut terjadi dalam satu tahun, sungguh luar biasa,” kata Matthew Langdon Druckenmiller, Ilmuwan di National Snow and Ice Data Center Universitas Colorado, seperti dikutip The Guardian, pada Rabu (17/12).

Arktik memanas hingga empat kali lebih cepat daripada rata-rata global, karena pembakaran bahan bakar fosil. Panas tambahan ini mengubah bentuk Arktik yang disebut sebagai lemari es dunia, sebuah wilayah yang bertindak sebagai pengatur iklim utama bagi seluruh planet.

NOAA mencatat, luas maksimum es laut pada tahun 2025 adalah yang terendah dalam catatan satelit selama 47 tahun, yaitu 10,1 juta kilometer persegi. 

Ini adalah tonggak terbaru dalam tren yang lebih panjang, dengan es tertua dan tertebal di wilayah tersebut menyusut lebih dari 95% sejak tahun 1980-an seiring dengan semakin panas dan banyaknya curah hujan di Arktik.

Tahun ini merupakan tahun dengan curah hujan tertinggi di Arktik. Sebagian besar curah hujan ini tidak berubah menjadi salju. Luas tutupan salju di Arktik pada bulan Juni hanya setengah dari luasnya selama enam dekade.

Para ilmuwan terkejut melihat bagaimana suhu hangat yang luar biasa di musim lain, terutama musim panas, kini juga terlihat di musim dingin. Hal inimemengaruhi pertumbuhan tahunan es laut di seluruh Arktik pada bulan-bulan terdinginnya. 

Dalam sebulan terakhir, luas es laut berada pada titik terendah yang pernah tercatat, berpotensi menandai penurunan maksimum es laut lagi tahun depan.

“Terjadi penurunan es laut secara terus-menerus dan sayangnya kita sekarang melihat hujan bahkan di musim dingin,” kata Druckenmiller.

“Konsep musim dingin sedang didefinisikan ulang di Arktik,” ujarnya.

Perubahan Berdampak pada Manusia dan Satwa

Perubahan ini sangat dirasakan oleh manusia dan satwa liar di Arktik. Hujan yang jatuh di atas salju dapat membeku dan menyulitkan hewan untuk mencari makan. Selain itu, kondisi ini lebih licin dan berbahaya bagi orang yang bepergian melalui jalan darat. 

Penyusutan gletser juga dapat menyebabkan banjir yang berpotensi berbahaya, seperti yang terlihat di Juneau, Alaska, tahun ini.

Hilangnya es laut membuka area lautan gelap, yang menyerap alih-alih memantulkan lebih banyak panas pemicu peningkatan suhu global. Meskipun pencairan es laut tidak menyebabkan kenaikan permukaan laut, hilangnya gletser di daratan yang menyebabkannya. 

NOAA melaporkan bahwa lapisan es Greenland yang sangat besar kehilangan 129 miliar ton es pada tahun 2025. Hal ini akan menambah kenaikan permukaan laut yang akan mengancam kota-kota pesisir selama beberapa generasi mendatang.

“Kita melihat dampak berantai dari pemanasan Arktik,” kata ilmuwan iklim di Climate Central, Zack Labe.

Selain dampak kenaikan permukaan laut yang tidak siap dihadapi kota-kota pesisir, pemanasan di Arktik membuat harga makanan laut meningkat. “Kita dapat menunjuk Arktik sebagai tempat yang jauh, tetapi perubahan di sana memengaruhi seluruh dunia,” kata Labe.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...