Pemanasan Suhu Ubah Pola Iklim Indonesia, Musim Hujan Semakin Ekstrem

Image title
19 Desember 2025, 14:06
Indonesia, perubahan iklim, cuaca ekstrem
ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan
Warga melintasi banjir di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Kamis (27/11/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perubahan suhu yang terus meningkat di Indonesia telah menggeser pola iklim secara fundamental. Musim kemarau menjadi semakin kering dan panjang, sementara musim hujan justru semakin basah dengan intensitas hujan yang lebih ekstrem.

Riset bertajuk 'Warned by Nature' yang dipublikasikan oleh Landscape Advisory mengungkapkan, selama periode 1971–2020, suhu rata-rata Indonesia tercatat meningkat sekitar 0,28 derajat Celsius per dekade.

“Proyeksi berdasarkan kumpulan model terbaru Coupled Model Intercomparison Project Phase 6 (CMIP6) menunjukkan kenaikan lanjutan sekitar 0,25°C per dekade antara 2000 hingga 2050,” tulis CEO Landscape Advisory Agus Sari, Jumat (19/12).

Kenaikan suhu tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya hari panas ekstrem, tetapi juga mengubah cara atmosfer menyimpan dan melepaskan uap air.

Menurut riset tersebut, atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, intensitasnya menjadi jauh lebih tinggi.

Risiko Hujan Ekstrem Meningkat

Analisis suhu maksimum harian menunjukkan hari-hari terpanas di Indonesia terus menghangat, yang berkontribusi pada meningkatnya risiko hujan ekstrem pada musim basah.

Kajian dengan menggunakan CMIP6 dan pemodelan regional CORDEX Asia Tenggara menemukan kontribusi hari-hari dengan hujan sangat lebat terhadap total curah hujan tahunan diperkirakan meningkat hingga 15–25% di banyak wilayah Indonesia menjelang akhir abad ini.

“Peningkatan ini terjadi bahkan di daerah yang total curah hujan tahunannya tidak meningkat signifikan,” tulis Agus Sari.

Sebaliknya, pada musim kemarau, periode tanpa hujan justru semakin panjang. Jumlah hari kering berturut-turut diproyeksikan meningkat tajam, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan Utara, serta terus berlanjut di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

“Jumlah hari kering berturut-turut (CDD) diproyeksikan meningkat tajam—hingga sekitar 64%,” tambahnya.

Peneliti Landscape Advisory itu menyebut kondisi ini sebagai rezim hidrologi yang semakin “tidak stabil” atau volatil. Pola tersebut ditandai oleh kontras ekstrem antara musim kemarau yang kering dan musim hujan yang sangat basah, dengan ketergantungan yang semakin besar pada fenomena iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation dan Madden–Julian Oscillation.

Dampak perubahan pola iklim ini sudah mulai dirasakan dalam bentuk peningkatan bencana hidrometeorologi. Data kebencanaan nasional menunjukkan banjir dan longsor kini menjadi bencana paling mematikan dan paling sering terjadi di Indonesia.

“Tinjauan nasional terbaru menemukan bahwa banjir, cuaca ekstrem, dan longsor secara bersama-sama menyumbang mayoritas kejadian dan korban yang tercatat sejak tahun 2000, dengan tren peningkatan yang jelas selama dua dekade terakhir,” ujar Agus Sari.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...