Uni Eropa Mulai Berlakukan Kebijakan Karbon untuk Semen dan Baja
Uni Eropa mulai menerapkan aturan kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) untuk komoditas seperti baja dan semen. Dengan aturan ini, perusahaan yang menjual produknya ke Eropa harus mematuhi regulasi rendah karbon atau akan menghadapi denda.
Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri, Stéphane Séjourné mengatakan, perusahaan wajib mematuhi penyesuaian batas karbon CBAM yang bertujuan menciptakan persaingan yang setara antara Uni Eropa dan para pesaing luar negeri.
“Produsen industri Eropa harus didorong, bukan dihalangi dalam upaya dekarbonisasi mereka," katanya, dikutip dari The Guardian, Jumat (2/1).
Séjourné mengatakan reformasi CBAM membawa langkah-langkah penting yang telah lama dinantikan untuk memastikan persaingan yang setara antara produsen industri UE dan non-UE.
Banyak negara memperkirakan UE akan mundur dari aturan tarif hijau tersebut, seperti halnya sejumlah regulasi lingkungan lain yang baru-baru ini dilonggarkan. Namun, UE tetap melanjutkan aturan itu meskipun ada protes dari Tiongkok, AS, Australia, dan negara-negara lainnya.
Di bawah aturan UE, eksportir dapat membeli sertifikat untuk menutup emisi karbon yang dihasilkan dalam produksi barang mereka. CBAM dimaksudkan untuk memastikan bahwa pesaing dari negara-negara dengan standar lingkungan yang buruk tidak dapat mengalahkan bisnis UE dalam harga, serta untuk mencegah kebocoran karbon, yaitu ketika produsen pindah ke wilayah dengan regulasi longgar karena biaya yang lebih rendah.
Pada tahap awal, aturan ini akan mencakup besi dan baja, aluminium, semen, hidrogen, listrik, dan pupuk.
Direktur eksekutif Mineral Products Association di Inggris, yang mencakup produsen semen, Diana Casey mengatakan CBAM di Eropa dan Inggris akan membantu melindungi produsen dalam negeri.
“Tantangan bagi kami adalah bahwa negara-negara lain di dunia tidak mengikuti laju dekarbonisasi. Akibatnya, produksi produk seperti semen menjadi jauh lebih murah di luar Eropa,” ujarnya.
Impor semen ke Inggris telah meningkat tiga kali lipat, katanya, dari sekitar 10% pangsa pasar satu dekade lalu menjadi sekitar sepertiga saat ini. “Kami membutuhkan CBAM untuk menyetarakan biaya karbon,” kata Casey. “Kami benar-benar memandangnya sebagai hal yang sangat mendasar untuk mengamankan masa depan produksi semen di Inggris,” tambahnya.
Wopke Hoekstra, komisaris iklim UE, sebelumnya mengatakan perusahaan Inggris tidak perlu terlalu khawatir terhadap CBAM, meskipun belum ada kesepakatan, dan bahwa setelah kedua skema perdagangan karbon terhubung, isu penyelarasan dengan CBAM bisa menjadi sederhana.
“Harga yang [Inggris] bayarkan sebenarnya minimal. Penilaian saya adalah bahwa jika keterkaitan penuh [pasar karbon] telah terjadi, maka kemungkinan tidak ada lagi yang perlu dilakukan, baik dari sisi pembukuan maupun administrasi,” kata dia.
UE juga telah bergerak untuk memperluas cakupan CBAM di masa depan, ke produk-produk yang menggunakan baja dan aluminium, seperti mesin dan peralatan listrik, mulai 2028. Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa produsen tidak mencoba menghindari aturan karbon dengan memindahkan lokasi manufaktur mereka ke luar Eropa.
“Kami menepati komitmen kami untuk mengamankan perjanjian pengaitan karbon dengan UE sesegera mungkin, yang akan membebaskan bisnis Inggris dari lebih dari £7 miliar biaya ekspor. Kami terus bekerja erat dengan Komisi Eropa untuk mendukung para produsen kelas dunia kami dan memastikan bahwa investasi hijau di Inggris menghasilkan dekarbonisasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Wopke.
