Usai Mundur dari Perjanjian Paris, Amerika Serikat Kini Juga Keluar dari UNFCCC

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 Januari 2026, 10:38
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di KTT ASEAN, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/8). Foto: Youtube/White House
Youtube/White House
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di KTT ASEAN, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/8). Foto: Youtube/White House
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Setelah menyatakan keluar dari Perjanjian Paris, Amerika Serikat kini juga menarik diri dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Ini membuat AS kini menjadi satu-satunya negara yang keluar dari UNFCCC.

Penarikan diri ini tertuang dalam Memorandum Kepresidenan yang dirilis pada Rabu (7/1), dengan tajuk “Menarik Diri Amerika Serikat dari Organisasi, Konvensi, dan Perjanjian Internasional yang Bertentangan dengan Kepentingan Amerika Serikat.”

Sebelumnya, Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif 14199 pada 4 Februari 2025, yang menyatakan penarikan AS dan penghentian pendanaan untuk beberapa organisasi PBB tertentu. Selain itu, AS juga akan meninjau kembali dukungannya terhadap semua organisasi internasional. 

Perintah tersebut memberi mandat pada Menteri Luar Negeri AS untuk meninjau semua organisasi antarpemerintah di mana AS berpartisipasi di dalamnya. Termasuk konvensi dan perjanjian. Ini dilakukan untuk mengetahui organisasi, konvensi, atau perjanjian mana yang bertentangan dengan kepentingan AS. 

“Saya telah mempertimbangkan laporan Menteri Luar Negeri dan setelah berdiskusi dengan Kabinet saya, telah ditetapkan bahwa tetap menjadi anggota, berpartisipasi, atau memberikan dukungan pada organisasi dalam bagian 2 memorandum ini bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat,” kata Trump, dalam memorandum tersebut, dikutip Kamis (8/1).

Tak hanya UNFCCC, AS juga menyatakan berhenti berpartisipasi dari sejumlah lembaga lainnya. Totalnya 35 lembaga non-PBB dan 31 lembaga PBB. 

Menteri Luar Negeri AS ke-68 sekaligus Mantan Utusan Khusus Presiden untuk Iklim John Kerry, mengakui ini bukan keputusan yang mengejutkan. Menurutnya, keputusan ini menjadi hadiah bagi Cina dan kartu bebas hukuman bagi negara-negara dan pencemar yang ingin menghindar dari tanggung jawab. 

“Ini adalah luka yang diakibatkan sendiri di panggung dunia, dan harganya selalu dibayar oleh anak-anak, berupa terganggunya kesehatan, hilangnya lapangan kerja, biaya meningkat, infrastruktur tak dapat diasuransikan, dan konsekuensi yang lebih buruk,” tutur Kerry. 

Meskipun begitu, Mantan Wakil Utusan Khusus Utama Departemen Luar Negeri AS untuk Iklim Sue Biniaz mengungkap bahwa aksi iklim tak akan berhenti karena penarikan perjanjian AS, baik di negara ini maupun secara global.

“Dan penarikan federal ini mudah-mudahan bersifat sementara. Ada banyak jalur di masa depan untuk bergabung kembali dengan perjanjian iklim utama,” katanya. 

Dirinya menyinggung ungkapan para ahli perjanjian yang menganggap bahwa AS dapat kembali bergabung dengan UNFCCC sesuai persetujuan Senat pada 1992. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...