Fesyen Berkelanjutan Kian Diminati, Produsen Lokal Siap Incar Potensinya

Ajeng Dwita Ayuningtyas
9 Januari 2026, 14:39
pekerja menata produk pakaian di salah satu toko fesyen di Bandung, Jawa Barat, Senin (1/12/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Jawa Barat pada November 2025 secara bulanan (mtm) mencapai 0,16 persen sementara secara tahunan (yoy)
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr
pekerja menata produk pakaian di salah satu toko fesyen di Bandung, Jawa Barat, Senin (1/12/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Jawa Barat pada November 2025 secara bulanan (mtm) mencapai 0,16 persen sementara secara tahunan (yoy) mencapai 2,54 persen dengan komoditas penyumbang inflasi yakni kelompok makanan, minuman, tembakau, dan pakaian alas kaki.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pakaian dari bahan baku tekstil alami diperkirakan akan semakin diminati. Pendiri jenama lokal TAZA, Ashila Ramadani, menilai tren ini beriringan dengan isu lingkungan yang sudah mengemuka dari tahun-tahun sebelumnya. 

“Apalagi ke depan Gen Z jadi market utama, yang mana lebih melek dan peduli terhadap isu lingkungan,” kata Ashila, saat ditemui usai pameran ‘A Tale of Tomorrow’ oleh TAZA di Jakarta, Jumat (9/1). 

Serat alam atau natural fabric bisa berasal dari tumbuhan, hewan, maupun mineral. Serat dari tumbuhan misalnya dari kapas, bambu, rami, atau sisal. Lalu serat dari hewan seperti sutra, wol, atau kolagen. Kemudian serat mineral bisa berasal dari asbes maupun fiberglass. 

Serat alami dapat terurai, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan sintetis.  Mengutip keterangan Kementerian Pertanian, serat alami terus mengalami peningkatan permintaan di kancah global. Hal ini didorong kesadaran yang lebih besar mengenai keberlanjutan dan efek negatif penggunaan bahan sintetis. 

Laporan Global Fiber Consumption and Market Trends pada 2024 pun mengungkap, konsumsi serat alami oleh sektor tekstil diperkirakan meningkat 8% per tahun hingga lima tahun ke depan. 

Ashila menambahkan, menerapkan prinsip fesyen berkelanjutan atau sustainable fashion tak terbatas pada penggunaan bahan-bahan alami. Prosesnya juga sebisa mungkin hanya menghasilkan sedikit sampah.

“Diusahakan potongannya, polanya, itu tidak membuang banyak bahan,” tambahnya. 

Selain itu, unsur keberlanjutan menurutnya bukan hanya mengenai lingkungan, melainkan juga pemberdayaan dari segi ekonomi pekerjanya. Contohnya adalah pemberian gaji secara layak. 

Melalui pameran tersebut, Ashila menggambarkan proses terbentuknya pakaian dari alam hingga tangan konsumen, dengan melibatkan tanggung jawab kepada alam dan manusia. 

Deputi Bidang Kreativitas, Budaya, dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif Yuke Sri Rahayu, menilai pameran ini sebagai cerminan kematangan jenama lokal Indonesia dalam proses yang lebih bertanggung jawab dan sadar dampak. 

“Ruang ini menjadi awal percakapan yang lebih luas tentang cara berpakaian, kesederhanaan, dan langkah kreatif yang berdampak berkelanjutan,” ungkap Yuke.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...