RI dan Norwegia Kucurkan Dana Hibah untuk Cegah Deforestasi
Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Norwegia meluncurkan Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan atau Small Grant Periode Keempat, pada Kamis (12/2). Pendanaan dengan skema hibah ini jadi salah satu cara menekan angka deforestasi di Indonesia.
Dana tersebut akan disalurkan Kementerian Kehutanan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, untuk mendukung target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 dengan mekanisme pendanaan berbasis hasil.
“Atas nama Pemerintah Indonesia, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Norwegia atas kerja sama yang sangat baik selama ini,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dalam keterangan resmi dikutip pada Kamis (12/2).
Selama tiga periode pelaksanaan, program ini telah menyalurkan dana sebesar Rp 19,31 miliar kepada 561 kelompok masyarakat. Totalnya mencakup 31.512 penerima manfaat yang tersebar di 36 provinsi.
Penerima manfaat dalam hal ini mulai dari generasi muda, kelompok perhutanan sosial, hingga pegiat konservasi dan pelestarian alam.
Program ini memang didesain untuk melibatkan masyarakat secara aktif dan inklusif dalam upaya pelestarian lingkungan dan penguatan ketahanan iklim.
Untuk periode keempat, pengajuan usulan kegiatan oleh masyarakat dibuka pada 12-19 Februari 2026 dengan proses pendaftaran dan pengajuan proposal secara daring melalui laman layanan-dana-masyarakat.bpdlh.id. Selanjutnya, proposal akan diproses sesuai mekanisme yang berlaku.
Upaya Pelestarian Lingkungan dengan Melibatkan Generasi Muda
Dalam periode ini, masyarakat dapat memilih salah satu dari tiga tema utama. Pertama, FOLU Goes to School, berfokus pada pelibatan generasi muda dalam pelestarian lingkungan. Kedua, FOLU Terra, bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan berbasis lingkungan. Ketiga, FOLU Biodiversity, mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
Menteri Pembangunan Internasional Norwegia, Asmund Aukrust, menyebut Small Grant Periode Keempat ini sebagai bukti bahwa dukungan harus sampai ke masyarakat yang hidup paling dekat dengan hutan.
“Kami sangat bangga dengan kemitraan dan persahabatan yang terjalin dengan Indonesia. Kami datang untuk mendengarkan, belajar, dan menegaskan bahwa kita berada dalam perjuangan ini bersama-sama,” ujarnya.
