Riset Ecoton: Mikroplastik Ditemukan di Air Ketuban 42 Ibu Melahirkan di Gresik
Mikroplastik ditemukan dalam air ketuban 42 ibu melahirkan di Gresik, Jawa Timur. Ini berdasarkan penelitian terbaru Ecoton Foundation bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Lab FTIR Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Penelitian tersebut menemukan sebanyak 40,5 persen mikroplastik yang ditemukan dalam air ketuban berjenis polyethylene (PE), bahan yang umum digunakan pada kresek, botol plastik, kemasan makanan, gelas minuman panas, atau mika sekali pakai.
Sedangkan sisanya beragam, yaitu mikroplastik polyisobutylene 16,7 persen; polyphenylene Sulfide 7,1 persen; PET-Like 7,1 persen; dan polypropylene 9,5 persen.
Semakin sering ibu hamil menggunakan plastik sekali pakai, maka semakin tinggi pula paparan mikroplastik pada janin.
Dampak mikroplastik terhadap janin tidak bisa dipandang remeh. Kepala Laboratorium ECOTON Rafika Aprilianti menjelaskan, mikroplastik dalam ketuban dapat memengaruhi pertumbuhan janin.
“Ada korelasi kuat antara keberadaan partikel plastik dengan peningkatan Malondialdehide (MDA), yaitu penanda peradangan yang bisa mengganggu perkembangan janin,” kata Rafika, dalam keterangan resmi dikutip pada Jumat (27/2).
Selain dapat menyebabkan peradangan, partikel kecil itu dapat memicu stres pada sel-sel tubuh, merusak atau mematikan sel, serta mengganggu kerja plasenta. Padahal, plasenta merupakan jalur kehidupan bagi janin. Bila fungsinya terganggu, pertumbuhan janin rentan terlambat, memicu kelahiran prematur, serta menyebabkan tekanan darah tinggi pada ibu.
Dalam beberapa studi yang dihimpun Ecoton, mikroplastik tak hanya ditemukan di air ketuban, tetapi juga ditemukan di kulit, testis dan sperma, plasenta, ASI, darah, tulang, paru-paru, hati dan ginjal, hingga otak manusia.
Indonesia Juara Satu Konsumsi Mikroplastik
Berdasarkan hasil studi jurnal Environmental Science & Technology 2024, masyarakat Indonesia paling banyak mengonsumsi mikroplastik di dunia, rata-rata 15 gram per bulan. Ini kurang lebih setara satu kartu ATM.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm. Plastik dapat terdegradasi menjadi mikroplastik maupun nanoplastik karena paparan panas, radiasi ultraviolet, atau gesekan mekanis.
Hasil degradasi itu kemudian bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai jalur, baik udara, air, maupun konsumsi makanan.
Mengutip Ecoton, plastik mengandung lebih dari 16.000 bahan kimia dengan ribuan di antaranya bersifat berbahaya. Sekitar 4.219 bahan kimia tersebut digolongkan sebagai bahan kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan.
