Warisan Racun Perang: Dari Puing Gaza ke Logam Berat di Ukraina dan Irak

Martha Ruth Thertina
5 Maret 2026, 11:33
Kerusakan akibat perang AS-Israel dengan Iran.
UMJ
Kerusakan akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di balik reruntuhan bangunan dan korban jiwa, perang menyisakan ancaman tersembunyi: pencemaran beracun. Dalam laporannya ke Sidang ke-80 Majelis Umum PBB yang dirilis Juli tahun lalu, Pelapor Khusus PBB untuk isu zat beracun dan hak asasi manusia Marcos Orellana mendokumentasikan jejak pencemaran dalam berbagai perang.

“Aktivitas militer meninggalkan warisan racun yang bertahan lama di udara, tanah, dan air, baik dari amunisi uranium terdeplesi, kontaminasi bahan kimia, kebocoran minyak dan bahan bakar, maupun peralatan dan persenjataan militer yang ditinggalkan jauh setelah konflik berakhir,” demikian penggalan dalam bagian pembuka laporan tersebut.

Dalam dokumentasinya, Orellana mengidentifikasi beragam sumber pencemaran: amunisi uranium terdeplesi yaitu jenis logam berat yang digunakan dalam peluru penembus lapis baja; asbes dan logam berat dari bangunan yang hancur; tumpahan minyak terkait konflik; bahan kimia PFAS dari busa pemadam kebakaran di pangkalan militer; uji coba nuklir; hingga penyemprotan glifosat.

Sisa-sisa perang, termasuk amunisi yang belum meledak, kontaminasi kimia, dan kapal militer yang tenggelam, dapat tetap berbahaya selama puluhan tahun, bahkan lebih lama.

Gaza: 800 Ribu Ton Puing Berpotensi Beracun

Di Gaza, pengeboman yang berlangsung bertahun-tahun menyisakan kerusakan ekologis luas. United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan sedikitnya 800 ribu ton puing bangunan di Gaza mungkin terkontaminasi asbes.

Asbes dahulu banyak digunakan dalam material bangunan. Ketika bangunan runtuh dan material tersebut berubah menjadi debu, serat mikroskopisnya dapat terhirup dan meningkatkan risiko kanker paru serta penyakit pernapasan kronis.

Selain itu, peledakan tangki dan stasiun bahan bakar juga meningkatkan risiko pencemaran tanah dan air tanah akibat tumpahan minyak. Kerusakan berat berbagai infrastruktur vital, mulai dari sumur air, jaringan distribusi, sistem pembuangan limbah, hingga tangki air memperparah masalah lingkungan.

Ukraina: Logam Berat Mengalir ke Laut Hitam

Invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 juga meninggalkan jejak toksik yang luas. Ledakan akibat rudal dan senjata api memindahkan volume tanah dalam jumlah besar, mencampurkan lapisan tanah dengan serpihan logam, abu pembakaran, dan residu bahan peledak. Tanah yang terganggu ini kemudian berpotensi menyebarkan logam berat ke lingkungan sekitar.

Serangan terhadap kompleks industri seperti Azovstal steel plant di Mariupol pada 2022 memperparah masalah lama pencemaran di kawasan industri tersebut. Sebelum perang, kawasan tersebut sudah mengandung berbagai polutan berbahaya, mulai dari kadmium, timbal, kromium, dan arsenik hingga senyawa organik volatil, hidrokarbon aromatik polisiklik, serta fenol.

Dampak besar lainnya terjadi ketika Nova Kakhovka Dam jebol pada Juni 2023. Peristiwa itu melepaskan lebih dari 90 ribu ton logam berat, termasuk arsenik, nikel, dan seng, yang mengalir melalui Sungai Dnipro hingga mencapai Laut Hitam. Sejumlah kawasan lindung, termasuk taman nasional, ikut terdampak.

Sebelumnya, pada 2015, kebakaran di pabrik Avdiivka akibat penembakan artileri juga memicu kebocoran besar gas kokas yang mengandung benzol, toluena, naftalena, hidrogen sulfida, amonium, dan metana, campuran zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun lingkungan.

Sebelumnya, pada 2015, kebakaran di pabrik Avdiivka akibat penembakan oleh pasukan bersenjata menyebabkan kebocoran besar gas kokas yang mengandung benzol, toluena, naftalena, hidrogen sulfida, amonium, dan metana, campuran zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Irak: Jejak Uranium Terdeplesi di Lebih dari 1.000 Lokasi

Penggunaan amunisi uranium terdeplesi selama Invasi Irak yang dipimpin oleh Amerika Serikat bersama koalisi sekutu (Coalition Forces) pada 2003 meninggalkan jejak pencemaran luas. Selama operasi militer tersebut, pasukan koalisi diperkirakan menggunakan sekitar 116 ribu kilogram uranium terdeplesi.

Amunisi jenis ini biasanya dipakai untuk menembus lapis baja kendaraan militer. Meski diarahkan pada target tertentu, kontaminasinya menyebar jauh lebih luas, mencemari lebih dari 1.000 lokasi, banyak di antaranya berada di kawasan permukiman. Pencemaran itu berdampak pada udara, tanah, dan sumber air.

Sejumlah laporan juga mencatat lonjakan masalah kesehatan di masyarakat. Salah satunya adalah peningkatan hingga 17 kali lipat kasus kelainan bawaan pada bayi, selain berbagai gangguan kesehatan lain yang dikaitkan dengan dampak invasi tersebut.

Upaya pemantauan kesehatan masyarakat menghadapi kendala besar. Sebab, data mengenai lokasi yang menjadi sasaran amunisi tidak sepenuhnya tersedia, sehingga menyulitkan pemantauan terhadap kelompok yang paling berisiko terpapar, seperti petugas penyelamat, tim penjinak ranjau, warga yang tinggal di dekat lokasi terkontaminasi, hingga pekerja pengumpul logam bekas.

Pertanggungjawaban atas Pencemaran Sulit Ditegakkan

Orellana mengungkapkan pertanggungjawaban atas pencemaran sulit ditegakkan. Kerahasiaan militer, klaim kedaulatan yang luas, hingga sulitnya membuktikan hubungan sebab-akibat setelah jeda waktu panjang menjadi hambatan utama. Padahal, Komisi Hukum Internasional PBB dan Komite Palang Merah Internasional telah memperjelas kewajiban hukum perlindungan lingkungan dalam konflik bersenjata. 

Orellana merekomendasikan sejumlah langkah: mendorong negara memasukkan kejahatan ekosida atau kerusakan lingkungan skala besar ke dalam Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional; melindungi kawasan konservasi yang berpotensi terdampak konflik; melarang penggunaan senjata dengan dampak racun berat seperti uranium terdeplesi dan fosfor putih; serta menyusun instrumen internasional baru untuk menangani sisa-sisa beracun perang.

“Pencemaran akibat aktivitas militer bukan-lah sesuatu yang tak terhindarkan. Ini bisa dicegah,” tulisnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...