Auriga Catat Deforestasi Hampir 80 Ribu Ha di Hutan Cadangan Pangan dan Energi
Analisis Auriga Nusantara mengungkap terjadinya deforestasi seluas 79.408 hektare di hutan cadangan pangan, energi, dan air di seluruh Indonesia. Luasan tersebut mewakili 18% dari total angka deforestasi nasional pada 2025 yang mencapai 433.751 hektare.
Pada akhir Desember 2024, pemerintah menetapkan 20,6 juta hektare kawasan hutan Indonesia untuk cadangan pangan, energi, dan air. Dari jumlah tersebut, seluas 8,8 juta hektare di antaranya bahkan berupa tutupan hutan alam atau hutan yang murni terbentuk.
Namun, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah mengatakan, rencana pemanfaatan 20,6 juta hutan untuk cadangan pangan, energi, dan air itu tidak akan dilakukan dengan membuka lahan baru atau deforestasi.
Alih-alih membuka lahan baru, pemerintah akan memanfaatkan kawasan hutan yang sudah terbuka, baik karena logged over area, bekas kebakaran hutan, dan lain sebagainya. Kawasan ini akan dipulihkan dengan pola agroforestri atau multiusaha kehutanan.
“Dengan pola agroforestri atau tumpang sari dalam satu hamparan, selain ditanam tanaman pokok atau pohon dengan jenis multipurpose tree species dan tanaman buah-buahan, dapat juga ditanami tanaman musim seperti padi gogo dan jagung,” kata Raja Juli pada 2025 lalu, seperti dikutip dari Antara.
Akan tetapi, laporan Auriga Nusantara menunjukkan sebaliknya. “Siapa yang melakukan? Itu pertanyaan lebih lanjut,” kata Direktur Auriga Nusantara Timer Manurung, pada Selasa (31/3).
Timer mengatakan, Auriga mendapat laporan bahwa sebagian kawasan hutan di Kalimantan Tengah telah berubah menjadi sawah di bawah program pemerintah.
Menurut dia, laporan tersebut memang perlu ditelisik lebih jauh. Namun, pada intinya telah terjadi perubahan kawasan hutan menjadi sawah. Sementara di Sulawesi, justru terjadi peralihan dari sawah menjadi fasilitas smelter. Jumlahnya ribuan hektare.
“Sebenarnya kita ingin membuat ketahanan pangan seperti apa? Dengan menghilangkan sawah-sawah yang sudah terbukti dengan berspekulasi membangun sawah di hutan,” ujar Timer.
Lonjakan Deforestasi di Indonesia
Angka deforestasi di Indonesia menunjukkan lonjakan hingga dua kali lipat pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Semua pulau besar mengalami perluasan deforestasi dan perluasan tertinggi terjadi di Papua.
Analisis Auriga Nusantara yang disampaikan dalam laporan ‘Status Deforestasi Indonesia 2025’ mencatat terjadinya 433.751 hektare deforestasi di seluruh Indonesia pada 2025, setelah sebelumnya tercatat 261.575 hektare deforestasi pada 2024.
Berdasarkan total luasan deforestasi pada 2025, Kalimantan masih menempati posisi teratas dengan 158.283 hektare. Bukan hanya tahun ini, Kalimantan bahkan telah memuncaki daftar data deforestasi sejak 2013 silam.
Sumatra menyusul di posisi kedua dengan 144.150 hektare; Papua 77.678 hektare; Sulawesi 39.685 hektare; Maluku 7.527 hektare; Bali dan Nusa Tenggara 4.209 hektare; serta Jawa 2.221 hektare.
Akan tetapi jika dilihat berdasarkan tingkat perluasannya, Papua mengalami deforestasi paling signifikan selama satu tahun ke belakang. Angka deforestasi di Papua meningkat 60.337 hektare atau sekitar 348% dari angka deforestasi pada 2024.
“Kita harus hati-hati dalam 2-3 tahun lagi, tadinya hitungan kami 5-10 tahun lagi tapi sepertinya akan lebih cepat, deforestasi tertinggi akan terjadi di Papua,” kata Timer.
