WRI Indonesia Tawarkan 3 Solusi Berbasis Alam Atasi Banjir di Perkotaan

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 April 2026, 15:47
banjir, banjir Jakarta, solusi berbasis alam
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/YU
Pengendara motor melintasi banjir rob di Jalan R.E Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Banjir di area perkotaan menjadi masalah yang tak pernah surut. Di Jakarta dan wilayah-wilayah penyangganya, banjir layaknya agenda rutin saat kota-kota memasuki musim hujan atau setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras.

Menurut Peneliti WRI Indonesia Yudhistira Pribadi, banjir di area perkotaan ini perlu dimitigasi dengan pendekatan-pendekatan berbasis alam atau nature based solutions. Pasalnya, pendekatan ini langsung menyasar akar permasalahan banjir. 

Solusi berbasis alam merupakan pendekatan yang memanfaatkan proses-proses yang terjadi di alam untuk menyelesaikan masalah dengan optimal. Dalam kasus ini, masalah yang dimaksud adalah banjir. 

Langkah mitigasi banjir berbasis alam pun bervariasi, mulai dari skala kecil yang bisa diadaptasi di sektor rumah tangga hingga skala besar seperti restorasi lanskap. Solusi ini juga bisa menyesuaikan fasilitas mitigasi lainnya, seperti waduk, tanggul, dan sebagainya.

Agar berfungsi efektif, jenis solusi berbasis alam yang dipilih harus sesuai dengan karakteristik lokasinya. Berdasarkan analisis yang dilakukan WRI Indonesia pada 2021, setidaknya ada tiga jenis solusi berbasis alam yang dapat diimplementasikan di wilayah Jabodetabek. 

Pertama, restorasi lanskap di daerah aliran sungai (DAS). “Fokus intervensinya adalah reforestasi dan rehabilitasi di wilayah hulu,” kata Yudhis, dalam diskusi ‘Mengelola Risiko Banjir: Politik Kebijakan, Tata Ruang, dan Adaptasi di Kota-kota Pesisir di Indonesia’, Rabu (8/4).

Kedua, membuat water storage pond atau kolam penampungan air sementara terutama saat aliran sungai membesar. Ketiga, membangun taman multifungsi. Selain sebagai lokasi rekreasi, taman ini berperan sebagai area penyerap air.

Jika restorasi lanskap fokus pada area hulu, pembuatan kolam penampungan air tepat dilakukan di area tengah DAS dan di sepanjang koridor sungai. Serupa, taman multifungsi juga tepat dibangun di area tengah DAS.

“Taman-taman yang sudah ada bisa dimanfaatkan lebih maksimal, mungkin bisa di-upgrade dan sebagainya, terutama saat musim hujan atau cuaca ekstrem digunakan sebagai tempat penampungan air sementara,” ujar dia. 

Kepadatan suatu wilayah turut menjadi pertimbangan untuk mengembangkan solusi berbasis alam. Semakin padat area maka semakin sulit pula dibentuk solusi berbasis alam. Yang bisa diterapkan adalah skala-skala kecil seperti membentuk kolam penyerapan air, sumur resapan, atau memanfaatkan taman yang sudah ada untuk area resapan air.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...