Riset: Biji Kelor Mampu Serap 98% Mikroplastik dalam Air Minum

Ajeng Dwita Ayuningtyas
13 Mei 2026, 18:35
mikroplastik, biji kelor
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz
Peneliti mengambil sampel air Sungai Brantas dengan latar tumpukan sampah plastik saat penelitian mikroplastik di Dinoyo, Malang, Jawa Timur, Sabtu (24/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pohon moringa atau pohon kelor sudah lama dimanfaatkan masyarakat di bidang kesehatan. Dalam studi terbaru, tanaman dengan kandungan nutrisi tinggi ini juga terbukti efektif menghilangkan mikroplastik dalam air. 

Riset bertajuk ‘Removal of Microplastics from Drinking Water by Moringa oliefera Seed: Comparative Performance with Alum in Direct and in-Line Filtration Systems’ (2026) mengungkap, ekstrak biji kelor sama efektifnya dengan bahan kimia yang umum digunakan untuk menghilangkan mikroplastik pada air minum. 

Adriano G. dos Reis, salah satu peneliti, menjelaskan pengujian fokus pada mikroplastik polyvinyl chloride (PVC), karena termasuk jenis plastik yang paling bahaya dan banyak ditemukan dalam air minum. 

Sebagai informasi, mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil – bisa mencapai 1 mikrometer – yang apabila masuk ke dalam tubuh, dapat memunculkan berbagai risiko kesehatan. Masalahnya, partikel ini banyak ditemukan di berbagai tempat. 

Melansir CNN, sebuah studi pada 2024 mengungkap, mikroplastik telah mencemari 83% air keran yang diuji di berbagai belahan dunia. Mikroplastik juga telah ditemukan di dalam tubuh manusia, seperti otak, organ reproduksi, dan sistem kardiovaskular.

Pengujian dilakukan dengan mikroplastik berukuran rata-rata 18,8 mikrometer – sekitar seperempat rata-rata tebal rambut manusia – dan menyaringnya dengan ekstrak biji kelor dalam sistem filtrasi. Hasilnya, ekstrak biji tersebut 98,5% efektif menghilangkan mikroplastik dari air keran. 

Efisiensi ini hampir sebanding dengan koagulan – zat yang membuat partikel kecil dalam air saling menempel –  kimia yang umum digunakan, seperti aluminium sulfat atau tawas. Para ilmuwan bahkan menilai kinerja biji kelor ini lebih baik daripada tawas, saat digunakan dalam air dengan pH tinggi (alkalis).

Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru Bogor
Warga menjemur daun kelor dan biji kelor di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru, Bogor (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/agr)

Biji Kelor Mudah Terurai dan Risiko Toksisitasnya Rendah

Pemanfaatan biji kelor memiliki sejumlah keunggulan. Ini antara lain termasuk sumber daya yang dapat diperbarui, mudah terurai secara alami, tidak menghasilkan banyak lumpur, dan memiliki risiko toksisitas lebih rendah. Sementara, penggunaan bahan aluminium seperti tawas berisiko menyebabkan gangguan pada saraf. 

Profesor Ilmu Farmasi dari Health Sciences Center University of New Mexico, Matthew Campen, mengatakan bahwa produk alami ini dapat menggantikan sistem filtrasi berbasis aluminium. 

“Mungkin menawarkan solusi yang lebih murah dan lebih berkelanjutan untuk menghilangkan mikroplastik PVC,” ucap dia, dikutip dari CNN. Sebagai informasi, Campen tak terlibat dalam penelitian ini. 

Jika ditarik lebih jauh, pemanfaatan biji kelor dalam sistem filtrasi juga akan mengurangi kebutuhan penambangan aluminium, yang berdampak negatif pada lingkungan. 

Akan tetapi, butuh biji kelor dalam jumlah besar jika dimanfaatkan dalam instalasi pengolahan air perkotaan besar dengan aliran air tinggi. Inovasi ini lebih cocok untuk komunitas kecil atau tempat dimana koagulan kimia sulit diakses. 

Namun, semakin banyak biji yang digunakan, semakin banyak pula residu organik yang tertinggal di dalam air. Partikel ini juga perlu dibersihkan. 

Sebab itu, menurut Campen, perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana ekstrak biji kelor terdegradasi, kemudian apa yang terjadi pada PVC yang ditangkap, hingga seberapa mudah dan hemat konsep ini diterapkan. 

“Penting juga untuk melihat apakah moringa efektif melawan jenis mikroplastik lainnya, serta nanoplastik,” ujar dia. Ukuran nanoplastik ini lebih kecil dibandingkan mikroplastik. 

Ilmuwan dari Inggris dan Brasil yang menyusun riset tersebut telah mempelajari biji kelor selama satu dekade. Mereka mengamati peran biji kelor sebagai ‘koagulan’ atau zat yang menyebabkan partikel-partikel kecil dalam air saling menempel dan kemudian tersaring. 

Tebaran mikroplastik di lautan hingga pegunungan, membuat para ilmuwan ini meneliti lebih lanjut potensi biji kelor untuk menghilangkan mikroplastik. Namun jauh sebelum itu, kelor sudah lama digunakan untuk menjernihkan air. Bukti penggunaannya bahkan ditemukan pada peradaban Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...