Ironi Migas: Metana Bernilai Ekonomi Dibiarkan Lepas ke Atmosfer, Panaskan Bumi
Organisasi nirlaba bidang energi dan transformasi hijau Ecadin menyebut pengelolaan metana bisa jadi sumber pendapatan bagi industri minyak dan gas (migas). Namun, praktik ini belum atau minim dilakukan di Indonesia.
Chief Operating Officer Ecadin Candra Sri Sutama menjelaskan bahwa mengontrol atau mengurangi emisi metana di sektor migas lebih mudah dan murah dibandingkan di sektor pertanian atau limbah.
“Tidak mengakibatkan biaya tambahan, malah bisa memberi tambahan pendapatan untuk sektor migas karena gas metana itu dijual, menghasilkan devisa ekspor, menghasilkan uang untuk industri itu sendiri,” kata Candra, dalam Media Briefing ‘Methane Management in Oil and Gas’, pada Senin (8/6).
Metana adalah gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Meski umur metana di atmosfer jauh lebih pendek dibandingkan CO2, gas ini diperkirakan telah menyumbang hampir 30 persen kenaikan suhu global sejak era praindustri.
Laporan Global Methane Tracker 2026 dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan sektor bahan bakar fosil menyumbang sekitar 35 persen emisi metana yang berasal dari aktivitas manusia. IEA memperkirakan produksi minyak, gas bumi, dan batu bara melepaskan sekitar 124 juta ton metana setiap tahun.
Chandra menjelaskan, setidaknya ada tiga jalur lolosnya metana ke atmosfer di sektor migas, yaitu kebocoran tak disengaja dari segel rusak, katup bocor, atau pipa longgar; pelepasan disengaja untuk perawatan dan keselamatan; serta pembakaran metana yang tidak sempurna.
Padahal, metana bernilai ekonomi karena bisa dijual untuk produk liquefied natural gas (LNG). LNG adalah gas alam yang dicairkan dengan komponen utama berupa metana. “Bisa dijual, LNG itu metana,” ujar dia.
“Kami pernah menghitung kasar sekali, kebocoran metana yang saat ini ada di Indonesia itu kurang lebih sama dengan produksi (LNG) beberapa sumur,” ucapnya menambahkan.
Sebab itu, alih-alih menggali sumur baru, bahan baku utama LNG sebetulnya bisa diperoleh dengan mencegah kebocoran metana di sektor migas.
Sejauh ini, industri migas Indonesia disebut belum memanfaatkan metana yang bocor ke atmosfer sebagai sumber energi sekaligus strategi menekan emisi.
Padahal, pembeli dan investor migas global sudah banyak menagih transparansi emisi. Misalnya Jepang dan Korea Selatan yang disiplin soal pengurangan emisi.
Para pemodal juga cenderung memberi penilaian risiko lebih rendah dan pembiayaan lebih murah untuk produsen yang data emisinya terukur dan terbuka.
Ecadin merekomendasikan tiga hal untuk pengelolaan metana sektor migas: mengatur dan menegakkan aturan, mengukur, dan memonetisasi.
Soal pengukuran, Ecadin menyebut metodenya masih bergantung pada formula matematis. Akibatnya, data metana tidak pasti. Rekomendasinya, pengukuran dengan pemantauan satelit dan pengukuran langsung.
Ecadin juga mengkampanyekan penghentian flaring atau membakar gas ikutan yang tidak diperlukan selama produksi minyak dan gas bumi. “Di-flare kan berarti menjadi karbon dioksida, sasaran kami adalah mengurangi flaring tersebut, kecuali mendesak,” kata Candra.
“Fokusnya adalah bagaimana kebocoran-kebocoran itu dikurangi, supaya produksinya maksimal, pendapatannya maksimal tidak ada yang hilang ke udara,” ujarnya.
