Asap Karhutla RI Menyebar: Malaysia Tutup Sekolah, Singapura Siaga Kabut Asap

Muhamad Fajar Riyandanu
20 Agustus 2026, 14:51
malaysia, singapura, kabut asap, karhutla
ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/foc.
Sejumlah pengendara motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/3/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menyedot perhatian negara tetangga Malaysia dan Singapura setelah asap dari sejumlah titik panas di Sumatra dan Kalimantan mulai memengaruhi kualitas udara di beberapa wilayah mereka.

Menurut pemberitaan Kantor Berita Nasional Malaysia, Bernama, kondisi kabut asap mendorong pemerintah negara bagian Sarawak menutup sementara sekolah di sejumlah wilayah setelah kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak (JPNS), menutup seluruh sekolah di bawah kewenangannya di Kuching, Padawan, Serian, dan Samarahan selama dua hari. Penutupan tersebut berlaku pada 20 dan 21 Agustus sebagai langkah pencegahan akibat kualitas udara yang terdampak kabut asap.

Selama penutupan sekolah, pemerintah Sarawak kembali menerapkan Pembelajaran dan Pengajaran di Rumah (PdPR) untuk memastikan proses pembelajaran siswa tetap berjalan. JPNS juga menyatakan akan menyampaikan perkembangan terkait masa penutupan dan pembukaan kembali sekolah melalui saluran resmi pemerintah.

“Keputusan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan siswa serta warga sekolah, khususnya dari risiko paparan udara yang tidak sehat,” kata JPNS dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Bernama pada Kamis (20/8).

Penutupan sekolah juga sebelumnya terjadi pada 12 Agustus lalu. 108 sekolah di wilayah Serian ditutup sementara setelah Indeks Pencemaran Udara (IPU) mencapai lebih dari 200 atau masuk kategori sangat tidak sehat. Pemerintah Sarawak kemudian menerapkan PdPR selama sekolah ditutup agar kegiatan belajar siswa tetap berlangsung.

Pemerintah Sarawak menetapkan penutupan sekolah ketika IPU mencapai 200 sebagai bagian dari langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan siswa serta warga sekolah.

Kondisi kualitas udara di Sarawak juga terus memburuk pada pertengahan Agustus. Pada 15 Agustus, sembilan wilayah di Sarawak mencatat IPU dalam kategori tidak sehat. Kuching mencatat angka tertinggi dengan IPU 164, disusul Samarahan 161, Serian 160, Bintulu dan Sarikei 157, Sri Aman 153, Sibu 152, Mukah 151, serta Samalaju 118.

Jabatan Lingkungan Hidup Malaysia mengaitkan penurunan kualitas udara tersebut dengan pergerakan asap kabut dari berbagai arah. Asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat dari kelompok titik panas di Kalimantan Barat bergerak ke arah utara dan memasuki wilayah barat Sarawak.

Pemantauan pada 15 Agustus juga menemukan tujuh titik panas di Malaysia, dengan lima titik berada di Sarawak dan dua lainnya di Sabah. Timbalan Ketua Pengarah (Pembangunan) Jabatan Alam Sekitar (JAS), Azuri Azizah Saedon, dalam laporan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) mendeteksi 226 titik panas di Kalimantan dan lima titik panas di Sumatera.

“Penurunan kualitas udara tersebut disebabkan oleh pergerakan asap kabut dari berbagai arah, termasuk kepulan asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga pekat dari kelompok titik panas di Kalimantan Barat yang bergerak ke arah utara dan memasuki bagian barat negara bagian tersebut,” kata Azuri.

“Kepulan asap lokal dengan intensitas sedang hingga pekat juga terpantau berasal dari titik panas di sebagian besar wilayah Kalimantan, bagian tengah Sarawak, serta bagian tengah Sumatera.”

Kondisi tersebut kemudian mendorong pemerintah Malaysia meningkatkan pengawasan terhadap potensi pembakaran terbuka. Jabatan Lingkungan Hidup Malaysia meningkatkan patroli harian di wilayah yang rawan mengalami kebakaran dan terus memantau perkembangan indeks pencemaran udara.

Pemerintah Malaysia juga mengaktifkan Rencana Aksi Pembakaran Terbuka Nasional dan Rencana Aksi Kabut Asap Nasional untuk mengoordinasikan penanganan pembakaran terbuka dan kabut asap antarinstansi.

Singapura Waspadai Dampak Kabut Asap dari Indonesia

Sementara itu, Singapura turut meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak kabut asap dari Indonesia. Layanan Meteorologi Singapura pada 17 Agustus menyatakan Singapura berpotensi mengalami kondisi berkabut asap jika kebakaran di Sumatera dan Kalimantan semakin parah. 

Pemantauan Singapura menemukan titik panas yang disertai kepulan asap terutama di wilayah selatan dan tengah Sumatera serta berbagai bagian Kalimantan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena angin diperkirakan bertiup dari arah tenggara atau barat daya sehingga asap dari kebakaran regional berpotensi bergerak menuju Singapura.

Badan Lingkungan Nasional Singapura kemudian melanjutkan pemantauan terhadap perkembangan kabut asap dan kualitas udara. Pemerintah Singapura menyiapkan penerbitan imbauan kabut asap harian apabila Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam memasuki kategori tidak sehat.

Kekhawatiran Singapura juga muncul di tengah kondisi cuaca yang relatif kering. Layanan Meteorologi Singapura memperkirakan curah hujan pada paruh kedua Agustus berada di bawah rata-rata di sebagian besar wilayah negara tersebut.

“Sebagian besar malam juga diperkirakan terasa panas dan lembap, dengan suhu tetap di atas 27°C,” kata Layanan Meteorologi, sebagaimana diberitakan oleh Channel News Asia (CNA) pada Senin (17/8).

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...