Kualitas Udara Jakarta Buruk, Pramono Sebut Efek Kemarau dan El Nino
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan buruknya kualitas udara di Ibu Kota bulan ini salah satunya disebabkan oleh kombinasi musim kemarau dan El Nino.
Pramono menjelaskan kombinasi musim kemarau dan El Nino membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak dapat memproduksi hujan buatan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca atau TMC. Sebab, TMC hanya mempercepat proses hujan dengan menstimulasi awan bibit hujan yang terbentuk alami.
"TMC tidak bisa selalu berhasil. Kalau awannya tidak cukup, tidak bisa muncul hujan. Kami telah melakukan upaya TMC dua kali pada akhir pekan lalu tapi tidak kunjung berhasil," kata Pramono di Stasiun LRT Manggarai, Senin (24/8).
Berdasarkan data Air Quality Index, rata-rata indeks kualitas udara di Jakarta mencapai 110,39 poin. Dengan demikian, udara di Ibu Kota masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, dan orang berpenyakit jantung atau paru-paru.
Badan Pusat Statistik (BPS) mendata jumlah penduduk berusia di bawah 15 tahun mencapai 2,28 juta orang pada tahun lalu. Sementara itu, jumlah lansia mencapai 1,27 juta orang.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan mencatat tingkat prevalensi penyakit jantung di DKI Jakarta pada 2025 mencapai 1,56% dari total populasi. Adapun jumlah penderita tuberkulosis atau TBC di Ibu Kota mencapai 54.305 orang hingga Desember 2025.
Dengan kata lain, AQI mencatat kualitas udara di DKI Jakarta berbahaya bagi 3,78 juta orang atau sekitar 35% dari total penduduk yang tinggal di Ibu Kota. "Pemerintah Jakarta harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, karena sebagian kewenangan penanganan hal ini ada di pemerintah pusat," katanya.
Emisi Pembangkit Listrik Batu Bara Perburuk Kualitas Udara
Selain cuaca, Pramono menilai buruknya kualitas udara di Jakarta bukan semata-mata berasal dari Batavia. Menurutnya, kualitas udara di Ibu Kota diseret oleh emisi yang dihasilkan oleh pabrik dan pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta.
"Kalau masih pakai batu bara, sampai kapan pun daerah penyangga akan berkontribusi menaikkan emisi di Jakarta," katanya.
Sebelumnya, kualitas udara Jakarta belakangan kembali menarik perhatian, salah satunya dalam momen peringatan kemerdekaan RI ke-81 kemarin. Saat atraksi pesawat dan penerjun dari TNI dilakukan pada Senin (17/8), masyarakat dibuat ‘gagal fokus’ dengan langit Jakarta yang kelabu.
Pada 17 Agustus 2026, sejumlah wilayah juga terpantau memiliki kualitas udara tidak sehat. Dalam unggahan Instagram resmi Bicara Udara, lembaga non-profit yang mengadvokasi strategi peningkatan kualitas udara itu menyoroti kabut polusi di sekitar lokasi atraksi.
“Atraksi pesawat dan penerjun TNI mewarnai langit dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 hari ini. Namun, aksi hebat ini justru terlihat tidak menarik karena kabut polusi udara di sekelilingnya,” demikian dikutip dari unggahan @bicaraudara, pada Selasa (18/8).
Saat itu, hasil pemantauan udara.jakarta.go.id milik Dinas Lingkungan Hidup Jakarta pada pukul 08.00 WIB, sejumlah wilayah di Jakarta terpantau mencapai level kualitas udara tidak sehat.
Ketika kualitas udara tidak sehat, DLH Jakarta mengimbau masyarakat untuk memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, menjaga hidrasi terutama jika beraktivitas di luar ruangan, serta menggunakan masker jika berada di area berdebu, dekat jalanan padat, atau lekat dengan asap kendaraan.
