Anak Krakatau Erupsi, Bagaimana Nasib Badak Jawa di Ujung Kulon?
Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menyatakan badak jawa yang berada di kawasan konservasi itu tetap aman dan tidak terdampak langsung oleh erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dalam unggahan di Instagram resminya, pihak balai menyampaikan bahwa kawasan TNUK yang berjarak 50 km dari Gunung Anak Krakatau, ikut merasakan getaran dan mendengar gemuruh di sejumlah titik, pada Minggu (6/9).
Namun, dalam aktivitas erupsi yang berlangsung hingga sekitar 25 jam itu, Balai TNUK tidak menemukan adanya perubahan perilaku satwa.
“Durasi tersebut tentunya menjadi perhatian dalam pemantauan satwa, namun sejauh ini tidak menunjukkan adanya indikasi perubahan perilaku badak jawa yang berkaitan dengan aktivitas erupsi,” demikian dikutip dari unggahan @btn_ujung_kulon, pada Selasa (8/9).
Dengan jarak geografis mencapai 60 km antara kawasan TNUK dan Gunung Anak Krakatau disertai bentang hutan yang rapat, kata Balai TNUK, kondisi tersebut membantu meredam suara dan intensitas gemuruh untuk mencapai habitat badak.
Sementara itu, abu vulkanik juga dilaporkan menyelimuti sekitar kantor Balai TNUK di Labuan, Pandeglang, namun tidak teramati di habitat badak jawa.
“Abu terbawa angin musiman dari arah selatan yang melanda kawasan TNUK dengan kecepatan rata-rata sekitar 20-30 knot, namun belum terdeteksi mencapai area habitat badak,” demikian dikutip.
Badak jawa juga lebih suka memakan daun-daunan, pucuk, ranting muda, dan vegetasi semak di bawah tegakan pohon, alih-alih memakan rumput. “Kondisi ini membantu mengurangi potensi paparan langsung abu vulkanik,” tulis Balai TNUK.
Merujuk pada keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tidak menimbulkan potensi tsunami. Dengan demikian, habitat dan populasi badak jawa juga aman dari risiko tersebut.
Hanya Bisa Ditemukan di Ujung Kulon
Mengutip IPB University, badak jawa merupakan salah satu hewan purba yang masih hidup hingga saat ini. Satwa bercula itu hanya bisa ditemukan di Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.
Akan tetapi, badak jawa tergolong sebagai satwa dengan status konservasi critically endangered atau sangat terancam punah, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List. Dengan status tersebut, badak jawa juga tergolong dalam Apendiks I CITES, atau dilarang keras untuk diperdagangkan.
Saat ini, populasi badak jawa diperkirakan hanya sekitar 87 hingga 100 ekor. Satwa ini hidup dengan ancaman internal seperti persaingan dan pemangsaan antarsatwa, potensi inbreeding atau perkawinan antarkerabat), serta degradasi habitat karena invasi tumbuhan.
Di samping itu, badak jawa harus menghadapi ancaman wabah penyakit dari hewan ternak, perburuan liar, serta potensi bencana alam seperti erupsi gunung dan tsunami.
