Ironi Pangan RI: Makanan Terbuang Cukup untuk Kebutuhan 60-100 Juta Penduduk
Indonesia dilaporkan menghasilkan 23-48 juta ton food loss dan food waste setiap tahun selama 2000-2019 atau setara dengan kebutuhan pangan 61-100 juta orang. Ini ironi di tengah pengejaran swasembada pangan dan risiko ketahanan pangan ke depan karena perubahan iklim dan dinamika geopolitik.
Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu menyoroti masalah ini. “Ini angka kehilangan yang sangat besar,” kata dia dalam Indonesia International Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Food loss adalah makanan yang hilang di berbagai tahap produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi sebelum mencapai tahap konsumsi. Sementara, food waste merupakan makanan sisa yang masih layak konsumsi, namun berakhir sebagai sampah.
Persoalan ini, kata Mari, sudah mengemuka setidaknya sejak dirinya menjabat sebagai Menteri Perdagangan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Kami menemukan bahwa banyaknya food loss karena kurangnya fasilitas untuk pengeringan, kurangnya ruang penyimpanan, juga saat distribusinya,” ucap dia.
Mari mengatakan kualitas infrastruktur seperti jalanan yang rusak, ditambah proses pengemasan yang kurang memadai, dapat mengakibatkan distribusi pangan tidak berjalan lancar dan menimbulkan risiko hilangnya makanan.
Masalah ini dinilai tidak kalah penting untuk diselesaikan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan Indonesia.
Pemerintah Setop Sementara Program Cetak Sawah di Kawasan Hutan
Mari menjelaskan pemerintah tidak akan mencetak sawah baru di kawasan hutan karena produksi beras saat ini sudah mencukupi. Sebagai gantinya, pemerintah berencana memanfaatkan lahan terdegradasi untuk meningkatkan produksi pangan dan energi ke depan.
“Untuk meningkatkan produksi pangan dan biofuel ke depan, kami akan menggunakan lahan yang sudah terdegradasi,” ucapnya. Menurut dia, rencana tersebut telah didiskusikan dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan.
Selain itu, pemerintah akan mendorong intensifikasi lahan untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Upaya tersebut akan didukung riset dan kerja sama.
“Termasuk pengurutan genom (genome sequencing) untuk menghasilkan benih yang tidak hanya meningkatkan hasil panen, tapi juga mampu beradaptasi dengan ketersediaan air dan iklim yang lebih panas,” ucap dia.
